logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 17 Mei 2005 PANTURA
Line

Pasar Malam Tegal Mampu Bersaing dengan Swalayan

KOTA Tegal yang kini beranjak menjadi kota metropolis sudah lama memiliki pasar malam di Jalan Tentara Pelajar, depan Stasiun KA Tegal. Keramaian pasar ini tak pernah sepi pembeli kendati belakangan bermunculan pasar swalayan.

Ada beberapa alasan pembeli untuk tetap mengunjungi pasar tradisional itu. Pertama, dari sisi harga relatif lebih murah ketimbang di supermarket. Kedua, lokasinya mudah dijangkau selain pasar itu buka sampai larut malam. "Pukul 23.00 kita butuh sesuatu untuk memasak, di situ bisa kita dapatkan dengan mudah. Namun kalau di swalayan, pukul 21.00 sudah tutup," ujar Ny Siti, warga Majasem, Tegal.

Pasar malam menjual barang dagangan yang bermacam-macam seperti pasar pada umumnya. Barang-barang tersebut mulai dari buah-buahan, pakaian, aksesori, sepatu, buku, dan kaset. Pasar dinilai dapat mencukupi kebutuhan masyarakat Kota Tegal pada saat mereka membutuhkan barang pada malam hari.

Jumlah pedagang yang menempati pasar malam mencapai ratusan yang berasal dari Kota ataupun Kabupaten Tegal. Salah seorang pedagang pakaian di pasar tersebut berasal dari Karanganyar, Kabupaten Tegal, Yati (27), sudah berjualan sejak lima belas tahun lalu. "Saya sudah membantu ibu saya berjualan di sini sejak lima belas tahun lalu," ujarnya.

Dia menceritakan, ibu Yati sebelumnya berjualan di alun-alun. Menurut penuturannya, awal mula adanya pasar malam itu karena banyak pedagang yang berjualan di alun-alun dan oleh Pemkot kemudian dipindahkan ke kompleks Jalan Tentara Pelajar. Pada tahun-tahun pertama para pedagang menggelar dagangannya dengan bongkar pasang dan tanpa atap atau istilahnya misbar (gerimis bubar-Red). Mereka belum mempunyai kios. Jumlah pedagangnya pun hanya beberapa saja hingga menjadi ratusan seperti sekarang ini.

Kredit Kios

Wanita dari Karanganyar, Kabupaten Tegal ini menceritakan bagaimana prosesnya hingga dia mempunyai kios pakaian jadi di pasar malam.

"Setelah berdagang di alun-alun, ibu saya dipindahkan ke sini, kemudian sampai mendapatkan kios dengan cara kredit dari Pemkot."

Pedagang yang statusnya pindahan dari alun-alun mendapatkan tempat yang lebih strategis. Sementara itu, pedagang yang baru menempati sisa tempat dari pedagang pindahan tersebut. Mereka biasanya menempati kios-kios di bagian belakang. "Saya masih beruntung karena mendapat tempat yang strategis. Pedagang baru yang bukan pindahan dari alun-alun ditempatkan di bagian belakang," tutur Yati

Pedagang di pasar malam pada umumnya sudah mempersiapkan barang dagangannya sejak pukul 15.00 dan bahkan lebih awal. "Saya sudah di sini sejak pukul 14.00, mengelar dan manata barang dagangan. Pembeli baru berdatangan pukul 17.00," katanya.

Pedagang lain dari Kota Tegal, Masruroh (30), mulai menggelar dagangannya pada pukul 15.30-23.00. Dia berdagang selama tiga tahun di pasar malam. Kios yang ditempatinya sekarang sebelumnya milik budenya yang telah berjualan 12 tahun. (lei-44j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA