logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 17 Mei 2005 PANTURA
Line

Tak Membeli Karcis

Dua Penumpang KA Dianiaya

TEGAL - Dua pemuda asal Kota Tegal, Didi Purwanto (23) dan Adam Yusrizal (17), mengaku menjadi korban penganiayaan yang diduga dilakukan aparat keamanan di atas kereta ketika mereka naik kereta api (KA) Tawang Jaya jurusan Semarang-Jakarta. Penganiayaan terjadi dalam perjalanan selepas Stasiun Cirebon.

Akibat tindakan tersebut, korban yang tinggal di Jalan Merpati No 143B RT 2 RW 6, Kelurahan Randugunting, Tegal Selatan itu mengalami luka parah di bagian kepala, hidung, dan tangan kirinya. Ketika ditemui di rumahnya, dia yang didampingi kakak kandungnya, Gunawan, menceritakan, Minggu (8/5) sekitar pukul 22.00 dia berangkat ke Jakarta bersama rekannya, Adam, yang juga siswa SUPM Al Ma'arif dengan naik KA Tawang Jaya dari Stasiun Tegal.

Ketika itu, dia mengaku buru-buru naik KA sehingga tidak sempat membeli karcis. "Saya khawatir ketinggalan sehingga saya naik saja. Pikir saya nanti bisa bayar di atas," tuturnya. Setelah berada di atas kereta, dia dimintai karcis oleh kondektur. "Saya kemudian membayar Rp 10.000 untuk dua orang sampai Cirebon. Rencananya kalau ganti kondektur saya mau bayar lagi. Jadi, semacam estafet," tuturnya.

Entah karena persoalan apa, selepas dari stasiun Cirebon dia dihampiri kondektur dan petugas keamanan KA. Keduanya kemudian ditanya identitasnya. Bahkan, petugas sempat melakukan penggeledahan. "Tas dan pakaian saya dilucuti. Tidak cukup itu saja, petugas itu berbuat kasar. Wajah saya dipukuli dan mereka menyuruh saya untuk turun dengan paksa. Padahal kondisi kereta masih jalan."

Karena tidak tahan terhadap perlakuan tersebut, kedua korban itu pun meloncat.

"Saya diancam pilih mati di atas kereta atau di bawah. Karena ditodong senjata, saya kemudian melompat di daerah Heurgeules, Indramayu," ujarnya. Dia kemudian melapor ke polsek terdekat dan langsung dilarikan ke RS Indramayu. Selama empat hari, dia dirawat di RS. Adam selepas dari RS dibawa keluarganya ke Jakarta.

"Rencananya, saya ke Jakarta untuk memenuhi panggilan kerja di swalayan. Namun karena ada kejadian seperti ini saya tidak tahu lagi, dan kenapa petugas itu tega melakukan penganiayaan, apa sebabnya, saya sampai sekarang tidak tahu."

Razia Preman

Secara terpisah, Kepala Stasiun Tegal Wawan Ariyanto ketika dimintai konfirmasi mengaku secara resmi pihaknya belum menerima pengaduan kejadian tersebut. Kendati demikian, seusai melakukan klarifikasi ke Stasiun Cirebon dia mengatakan, sekitar tiga minggu lalu memang ada razia preman oleh petugas keamanan KA.

"Apakah dua pemuda itu terkena razia dari operasi tersebut kami sendiri belum tahu. Cuma, kalau hanya tidak membawa karcis, tidak mungkin petugas melakukan penganiayaan. Entah karena faktor lain, saya belum jelas duduk persoalannya. Memang, kalau penggeledahan barang bawaan itu sudah menjadi kewenangan petugas keamanan," jelasnya. (G12-44n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA