logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 17 Mei 2005 WACANA
Line

Surat Pembaca

Mencari Kader yang Bisa Selamatkan NKRI

Mari merenung sejenak, kemudian menengok ke belakang sejarah Indonesia bisa merdeka. Bukankah karena bangsa ini "bersatu" yang dimulai dari BO (1908), Sumpah Pemuda (1928) dan klimaknya Proklamasi 17 Agustus 1945.

Namun demikian menikmati kemerdekaan ternyata tidak semudah membalikkan telapan tangan. Masih banyak kerikil tajam yang harus disingkirkan. Mari mengkritisi pemerintahan lalu sbb: Orde lama dengan multi partainya, hanya menghasilkan perpecahan bangsa dengan pemberontakan.

Di antaranya DI/TII, Permesta, RIS, RMS dan lainnya meski waktu itu Presiden Soekarno bisa menyatukan dengan Nasakom-nya. Akhirnta gagal juga bersatu karena dikhianati PKI.

Orde Baru, Presiden Soeharto bisa menyatukan bangsa dengan berfusinya partai-partai tetapi mengebiri demokrasi, toh akhirnya gagal juga karena sistem pemerintahannya dinodai KKN yang meraja lela.

Orde Reformasi, kita mengharapkan ada perbaikan dan berkonsultasi bersama untuk mengisi kemerdekaan agar masyarakat adil dan rnakmur bisa terwujud. Tetapi yang terjadi malah perpecahan partai (multipartai) yang lebih parah dibanding orde lama. Partai-partai yang ada saling balas dendam, menghalalkan segala cara dengan senjata ampuhnya yaitu dengan politik uang.

Masing-masing pimpinan partai begitu angkuh dan sombong bisa mengatasi segala kesulitan yang diderita rakyat. Setelah mengevaluasi perjalanan sejarah bangsa selama 60 tahun, ternyata belum ada tanda-tanda mewujudkan yang dicita-citakan oleh para pendiri negara ini.

Untuk itu saya imbau hati nurani para pemimpin partai agar mau berfusi secara alami/bukan atas ajakan pihak lain, tetapi dilandasi kesadaran dan ikhlas untuk melawan musuh, yaitu kemiskinan, keterbelakangan. Juga waspadai provokator pemecah-belah persatuan bangsa.

Semoga Pemilu 2009 hanya ada maksimal 5 partai. Demikian ajakan saya semoga para pelaku revolusi (Angkatan '45) berpartisipasi aktif untuk mengingatkan para pemimpin partai mewujudkan NKRI yang adil dan makrnur.

Triman Sd

Mega Indah 506 Megawon, Kudus

***

Lagi, soal Intag Telkom

Saya pelanggan Telkom 11 tahun dan selama ini puas akan pelayanannya. Namun seiring dengan fitur barunya yaitu Intag (informasi tagihan), biayanya dibebankan kepada pelanggan. Memang nilainya tidak besar, hanya Rp 1.500/bulan, namun kini Telkom tidak Committed to You lagi.

Saat memperkenalkan Intag beberapa bulan lalu, disebutkan pelanggan dianjurkan memberikan konfirmasi dengan menghubungi operator. Bila tidak setuju, maka pengiriman Intag tidak dilakukan di bulan berikutnya. Saat itu istri saya langsung menghubungi operator untuk tidak menggunakan Intag tersebut.

Operator mencatat data dan dijanjikan tidak dikenai tagihan Intag di rekening mendatang. Namun ternyata, rekening bulan Oktober 2004 - Maret 2005 (terlampir), tetap dibebani Intag. Saya merasa kecolongan, walaupun nilainya hanya Rp 9.000 (total selama 6 bulan).

Saya merasa sudah melakukan konfirmasi dan tidak pernah menerima informasi tagihan telepon lewat pos. Bagaimana bisa Telkom membebankan kepada pelanggan bila tidak mengirimkan informasi yang dijanjikan dikirim lewat pos. Jadi selama ini, pelanggan harus membayar sesuatu yang tidak pernah diterimanya.

Itu baru terjadi pada 1 pelanggan selama 6 bulan. Padahal ada berapa banyak lagi pelanggan lain yang mengalami nasib serupa. Lalu ke mana larinya uang tersebut. Saya sudah mengeluhkan pada operator di 147 dan CSO Yantel namun jawabannya tidak memuaskan dan tidak menyelesaikan masalah. Bagaimana ini Telkomku, mana komitmenmu kepada pelanggan.

Moch Wahyu Putranto SSos

JI Dr Kariadi 538 Semarang

***

Nguri-uri Kerokan

Buat para bule, mengherankan sekali kerokan bisa memperbaiki kondisi tubuh yang tidak sehat. Meski pernah dianggap tidak masuk akal, mereka melihat, terapi ini ternyata efektif karena merah dan mudah dilakukan.

Prinsip kerokan menurut dokter Koosnadi Saputra SpR, akupunkturis klinik, mirip prinsip pemanasan dengan rnenggunakan moxa yang sering dipakai saat jarum akupunktur ditusukkan pada tubuh untuk mengatasi masuk angin.

Dokter Handrawan Nadesul menambahkan, efek kerokan yang hendak dicapai adalah mengembangnya pembuluh darah kulit yang semula menguncup akibat terpapar dingin atau kurang gerak, sehingga darah kembali mengalir deras. Penambahan arus darah ke permukaan kulit ini meningkatkan mekanisme pertahanan tubuh terhadap serangan virus.

Sementara itu alat kerokan biasanya menggunakan uang logam, koin, atau alat bantu khusus kerokan. Alat-alat tersebut harus turnpul supaya tidak melukai kulit. Lalu dibantu dengan minyak yang fungsinya selain menghangatkan juga untuk melicinkan proses kerokan sehingga menghindari terjadinya kulit lecet.

Saat dikerok, biasanya akan terjadi perubahan warna kulit. Kalau tidak merah, kulit bisa merah kebiruan, bahkan menghitam. Perubahan warna kulit ini menunjukkan tingkatan rasa sakit. Menurut Mochtar Wijayakusuma, warna kulit yang semakin rnenua menunjukkan semakin berat gangguan penyakitnya.

Sebaiknya kerokan dilakukan dari arah atas ke bawah. Bisa juga mendatar. Sebaiknya arah kerokan disesuaikan dengan meridian. Supaya efektif kerokannya, sebaiknya berdasarkan pada titik akupuntur dan meridiannya sesuai dengan keluhan penyakit yang terjadi.

Satu hal yang patut diingat dan dilakukan bila Anda sudah kerokan sebaiknya tidak mandi karena pori-pori kulit dalam kondisi terbuka. Lebih baik seka dengan lap basah yang dicelupkan pada air hangat lalu diperas.

Joko Suprayoga

Jl Raya Sapen 99 Sukorejo, Kendal

***

Terimakasih atas Infaknya

Beberapa waktu lalu Panti Asuhan Darus Sa'adah Tlogosari Kulon, Pedurungan Semarang kedatangan tamu utusan Mas Yoyok Sukawi untuk menyerahkan santunan berupa infak. Saya selaku pengasuh PA mengucapkan terima kasih atas perhatian dan kepeduliaannya.

Semoga kepeduliannya kepada anak yatim dan duafa membawa berkah bagi keluarga dan menyebabkan kemenangan bagi PSIS yang kini di manajeri Mas Yoyok.

Drs Ahmad MA

Jl Karang Ingas Raya 3/7, Semarang

Kasus Perkosaan

Secara tulus saya ucapkan terima kasih kepada Bpk Kapolres Temanggung, yang entah tahu atau tidak Bpk Kapolsek Kandangan menerima pengaduan saya pada 6 April 2005. Keesokan harinya, ditindaklanjuti membawa korban perkosaan yang masih berumur 10 tahun dan duduk di bangku kelas 4 SD ke RSU untuk divisum.

Dalam perjalanan pulang saya bertemu dengan seorang pamen Polri yang kebetulan kenal dan bertugas di Diskum Polda Jateng. Beliau penuh semangat menanggapi upaya saya mencari keadilan lewat jalur hukum. Beliau mengatakan pelaku dapat dijerat pasal 285 KUHP.

Bahkan karena korbannya masih di bawah umur dikenai juga pelanggaran UU Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara. Saya merasa lega ketika tanggal 8 April 2005 pagi pelaku dijemput 3 anggota kepolisian dan diamankan.

Bangga rasanya hati punya pelindung sekaligus pengayom masyarakat yang cepat tanggap pengaduan warga. Namun sayang, penahanan hanya beberapa saat karena sore harinya tersangka sudah berada di rumahnya. Saya tak tahu mengapa sudah bebas, apakah ada penangguhan atau lainnya.

Semoga Bpk Kapolda merespon kejadian ini, karena dampak negatif yang disandang korban sangat fatal, antara lain sakit-sakitan, enggan bersekolah karena malu dan lain-lain. Pembaca, dapatkah kita bisa menerima perlakuan ini.

Saya yakin bila tindak pemerkosaan ini benar-benar terjadi, karena di samping ada barang bukti, kesaksian korban serta pengakuan pelaku serta hasil visum. Masihkah nasib orang kecil yang miskin tetap diabaikan dalam mencari keadilan?

Yoyok Sukowaluyo

Jl Gatot Subroto I/149, Temanggung


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA