logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 17 Mei 2005 MURIA
Line

Dinilai Ganggu Religiusitas Ziarah

Keberadaan Pesanggrahan Colo Dipersoalkan

KUDUS - Sejumlah tamu yang menginap di Pesanggrahan Colo yang diduga tidak memiliki ikatan jelas dapat mengurangi nilai religiusitas objek wisata ziarah Masjid dan Makam Sunan Muria yang berada di tempat tersebut. Dengan predikat sebagai kawasan wisata ziarah, hendaknya hal-hal yang dianggap mengganggu nilai religiusitas di tempat tersebut, diupayakan dihilangkan.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria Muhammad Sahid Garno Sunarno kepada Suara Merdeka, kemarin. Dia tidak mengatakan semua tamu yang menginap di tempat tersebut sebagai pasangan yang tidak sah. Meski demikian, dari sekian banyak tamu masih ada yang diperbolehkan menginap di tempat itu walau tanpa ikatan pernikahan yang sah.

''Hal tersebut sedikit banyak mengurangi nilai religi kawasan ziarah yang tak berapa jauh dari tempat tersebut,'' ujarnya.

Karena itu, dia meminta Pemkab yang mengelola tempat itu mengoptimalkan pengawasan terhadap para tamu yang menginap sehingga tidak menodai Pesanggrahan Colo sebagai kawasan ziarah.

Menangapi hal tersebut, Kabid Kebudayaan pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kudus Bambang SS yang didampingi Teguh, menyatakan telah mendengar keluhan tersebut sejak beberapa waktu lalu. Karena itu, dia meminta semua pasangan tamu yang datang ke pesanggrahan untuk menunjukkan identitas mereka yang jelas.

''Tanpa menuduh suatu penginapan, kondisi tersebut juga terjadi di tempat lainnya,'' ujarnya.

Dia berencana membenahi pesanggrahan tersebut dengan menjadikannya sebagai hotel berbintang yang lebih representatif. Tentu saja, dengan kondisi tersebut, SDM yang ada juga akan dioptimalkan dan diupayakan agar para tamu dapat menghormati keberadaan wisata ziarah di tempat tersebut.

Untuk renovasi pesanggrahan yang terkait dengan revitalisasi kawasan Colo, baru akan direalisasikan pada 2007. Namun untuk jangka pendek, pihaknya mengaku akan membenahi administrasinya.

Sebenarnya, kata dia, di luar persoalan tamu ''tanpa identitas yang jelas tersebut'', Pesanggrahan Colo sudah sejak dahulu menanggung beban yang tidak ringan. Pemasukan ke kas daerah yang selalu bertambah yang untuk tahun ini Rp 90 juta (sebelumnya Rp 60 juta), realisasinya belum optimal. Dengan batas Rp 60 juta saja, pihaknya hanya mampu setor Rp 57 juta saja. Apalagi, dari sejak didirikan sampai sekarang, baru tahun ini akan dilakukan pembenahan dengan dana Rp 75 juta.

''Diharapkan, dengan rencana pembenahan pesanggrahan tersebut menjadi hotel yang lebih representatif, semua permasalahan di atas akan dapat dibenahi,'' tandasnya. (H8-52j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA