logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 17 Mei 2005 MURIA
Line

Terumbu Karang Tumpuan Masa Depan

PULAU Karimunjawa merupakan salah satu dari sekian Taman Laut Nasional yang dilindungi. Letaknya di wilayah Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, tepatnya ke arah laut Jawa. Potensi perikanan dan kelautan di pulau ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Pulau ini terdiri atas 27 pulau-pulau kecil yang sebagian besar belum dihuni. Pengembangannya saat ini lebih ditekankan pada pariwisata terutama wisata bahari. Kondisi terumbu karang yang masih bagus dimanfaatkan oleh Pemkab dan Balai Taman Nasional sebagai wahana wisata bahari seperti diving. Ikan-ikan karang (antara lain jenis-jenis ikan kerapu) masih mudah ditemui sepanjang pantai.

Perairan yang relatif stabil menjadi harapan bagi masyarakat Karimunjawa untuk terus mengeksploitasi sumber dayanya. Kondisi ini bertolak belakang dengan warga terutama di sekitar pantai yang belum mempunyai kesadaran menjaga kelestarian lingkungan untuk masa depan.

Ketidakadaan kesadaran tersebut terlihat pada penangkapan ikan-ikan karang dengan menggunakan racun atau pengambilan terumbu karang untuk kepentingan bisnis semata.

Secara nasional, berbagai penelitian selama beberapa tahun terakhir menunjukkan kondisi terumbu karang Indonesia sangat memprihatinkan. Luas terumbu karang Indonesia yang diperkirakan 60.000 km2 dengan kondisi baik hanya 5,56%. Kerusakan ini dapat dibagi dalam tiga penyebab. Pertama, faktor keserakahan manusia menyebabkan terjadinya praktik eksploitasi yang tidak bertanggung jawab. Kedua, faktor ketidaktahuan dan ketidakpedulian sehingga menimbulkan terjadinya kerusakan akibat polusi kimia dan sedimentasi dari pembuangan limbah industri ke sungai/laut, penambangan pasir laut dan pantai yang tidak ramah lingkungan, serta penambangan batu karang. Ketiga, faktor alami antara lain pemanasan global, el nino, letusan gunung berapi (DKP-Coremap, 2003).

Memprihatinkan

Di Pula Karimunjawa, kondisi kesehatan karang di berbagai gugusan pulaunya dapat dikatakan memprihatinkan. Salah satu kasus yang mengakibatkan kerusakan itu adalah penangkapan ikan-ikan karang dengan racun, pengambilan batu-batu karang yang notabene tempat berkembang biak habitat ikan, dan kasus-kasus penangkapan ikan dengan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan. Sementara itu, pulau-pulau yang kondisi karangnya dapat dikatakan baik, tinggal menunggu waktu saja untuk rusak jika kejadian-kejadian tadi tidak segera diantisipasi.

Kerusakan terumbu karang akan secara langsung akan berpengaruh pada kehidupan nelayan. Pengaruh itu antara lain hasil tangkapan menurun. Beberapa aktivitas masyarakat yang memanfaatkan fungsi dari pada terumbu karang, antara lain sebagai daerah tangkapan (fishing ground), sumber material berupa bahan bangunan dan timbunan, lokasi penyelaman untuk kegiatan wisata, serta sumber bahan makanan.

Berbahaya sekali terhadap kehidupan nelayan dan kepentingan nasional secara makro jika eksploitasi terumbu karang di Pulau Karimunjawa tidak dikendalikan. Hal itu mengingat, wilayah tersebut juga merupakan bagian dari konservasi taman laut nasional yang harus dilindungi. Perlu waktu sangat lama untuk pemulihan terumbu karang yang rusak.

Hampir semua terumbu karang yang sehat memiliki keanekaragaman ikan karang yang tinggi pula. Rata-rata area terumbu karang di Indonesia menyumbangkan 30% dari produksi perikanan laut khususnya ikan pangan. Di samping itu, lebih kurang 60% ikan karang merupakan ikan hias dan banyak di antaranya merupakan ikan hias yang bernilai ekonom tinggi.

Banyaknya kepentingan di Kepulauan Karimunjawa dapat mempertajam potensi konflik antar-stakeholder. Benar, saat ini terlihat tenang dan tenteram. Akan tetapi dalam jangka panjang, dapat menggelinding laksana bola salju yang membesar. Yang diperlukan adalah sebuah payung hukum dalam penataan tata ruang wilayah laut serta pengawasan secara terpadu. Perlu dipertegas, secara kelembagaan terdapat Balai Taman Nasional (BTN), Dinas Kelautan dan Perikanan, Pariwisata, Perhubungan.

Tidak perlu selalu menyalahkan masyarakat ketika tidak ada ketegasan dan perhatian dari Pemkab. Masyarakat juga mempunyai kepentingan untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan segala keterbatasannya. Pengalaman pahit yang dialami pulau-pulau lain di Indonesia, seharusnya menjadi pelajaran bagi stakeholder yang mempunyai kepentingan. Yang harus digarisbawahi adalah kita selalu gagal dalam menjaga kelestarian lingkungan dan selalu berhasil merusaknya. Benarkah? Mari kita belajar dari pengalaman, segalanya bisa terjadi! (52j)

- Penulis adalah peneliti bidang ekonomi sumber daya perikanan pada Pusat Riset Pengolahan Produk dan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA