| Selasa, 17 Mei 2005 | MURIA |
Petani Kesulitan Cari Pupuk SP 36 dan ZAREMBANG- Beberapa bulan terakhir, di wilayah Rembang terjadi kelangkaan pupuk SP 36 dan ZA. Akibatnya, harga pupuk tersebut melambung. Sejumlah petani saat dihubungi mengaku sudah lama kesulitan mencari pupuk SP 36 dan ZA. Tetapi mereka tak tahu penyebab terjadinya kelangkaan pupuk tersebut. ''Untuk bisa mendapatkan pupuk SP 36 dan ZA, petani harus beli ke daerah Jatim. Sebab di Rembang kosong, kalaupun ada harganya mahal,'' kata Kustono (46). Didampingi Rasdi (38) dan Jumadi (56), Kustono, petani asal Sluke itu menuturkan, harga pupuk SP 36 di daerahnya mencapai Rp 1.800-Rp 2.000/kg. Padahal harga eceran tertinggi (HET) cuma Rp 1.400/kg. Harga pukuk ZA di pasaran umum berkisar Rp 1.100-Rp 1.400/kg. Harga itu jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan HET-nya, yakni Rp 950/kg. ''Itu pun kalau dicari barangnya tidak ada. Saya pernah cari ke Pati juga kosong,'' ujar Jumadi menimpali pembicaraan Kustono. Sebagian petani di wilayah kecamatan lainnya seperti Sedan, Sale, Kragan, Sarang, dan Pancur juga mengaku kesulitan mencari pupuk SP 36 dan ZA. Namun khusus pupuk urea, sebagian besar petani menyatakan tidak ada masalah, meski ada kalanya terjadi kelangkaan. Kepala Pemasaran Pusri Kabupaten (PPK) Rembang, Munadi Harun membenarkan terjadinya kelangkaan pupuk SP 36 dan ZA. Alasannya, di daerah Rembang tidak ada distributornya. ''Di daerah Pati pun terjadi kelangkaan SP 36 dan ZA. Maka banyak petani asal Rembang yang lari ke Jatim,'' katanya. Ditanya soal kebutuhan pupuk di Rembang khususnya untuk 2005, Munadi menyatakan sesuai dengan SK Bupati, kebutuhan pupuk urea 15.088 ton. Tetapi berdasarkan SK Menteri Pertanian cuma 12.089,26 ton. Untuk kebutuhan pupuk SP 36 sesuai dengan SK Bupati ada 8.757 ton. Namun sesuai dengan SK Menteri Pertanian tercatat 1.903,51 ton. Pupuk ZA, sesuai dengan SK Bupati 3.537 ton dan SK Menteri Pertanian 1.192,77 ton. Dia mengakui, beberapa waktu lalu Rembang pernah terjadi kelangkaan pupuk urea. Persoalannya, terjadi keterlambatan pengiriman akibat gangguan transportasi. Soal pemilik tambak ikan bandeng yang banyak menggunakan pupuk urea, Munadi tidak membantah. Namun, ujarnya, cara itu termasuk pelanggaran. Alasannya, sasaran subsidi pupuk urea bukan pada petani tambak, melainkan petani sawah.(jl-52s) |