| Selasa, 17 Mei 2005 | EKONOMI |
Pengusaha Beralih ke Kayu ImporSEMARANG-Pengusaha mebel kini mengalihkan perhatian pada kayu impor jenis oaks. Bahan baku yang didatangkan dari Selandia Baru dan Kanada itu dinilai lebih mudah diperoleh karena tidak melalui proses pemeriksaan. Selama ini jati dan beberapa jenis kayu dalam negeri langka sehingga harga di pasaran melambung. Harga bahan baku mebel tersebut tinggi akibat pemeriksaan kayu-kayu yang diindikasikan ilegal sangat ketat. ''Di pasaran baik pembeli maupun penjual saling menunggu sejak diberlakukan operasi penebangan liar. Selama ini akses kayu memang cepat karena umumnya yang masuk Jateng adalah kayu ilegal,'' kata Anggoro Rahmadiputra, Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Jateng, baru-baru ini. Kekurangan bahan baku itu, lanjut dia, sebenarnya telah diantisipasi lewat pendirian terminal kayu yang direncanakan sudah mulai beroperasi tahun lalu. Namun hingga sekarang gudang kayu tersebut belum siap karena kekurangan modal. ''Setiap satu m3 kayu membutuhkan dana sekitar Rp 1,5 juta. Padahal terminal harus menyediakan kayu hingga 1.000 m3 sehingga kami perlu mengalokasikan dana minimal Rp 1,5 miliar,'' ujarnya. Sementara itu Sunarno, Kepala Biro Pemasaran Perum Perhutani Unit I Jateng mengakui stok kayu jati rendah. Harganya pun saat ini naik hingga 20% sehingga tidak semua permintaan dapat terpenuhi. Berdasarkan data Perhutani rencana produksi kayu bundar jati selama 2005 mencapai 155 ribu m3 di seluruh wilayah subunit. Rencana kuota yang dialokasikan kepada industri 22 ribu m3. ''Kami menganggarkan sisa kayu hingga akhir tahun ini mencapai 9 ribu m3, tetapi karena permintaan tinggi sisa kayu itu akan dijual sehingga kemungkinan tidak ada sisa persediaan pada tahun ini,'' jelasnya. Sementara itu alokasi kayu bundar jati yang akan dijual tahun ini semua 148.600 m3. (H12-27 ) |