| Selasa, 17 Mei 2005 | EKONOMI |
Setelah Ada Surat Edaran GubernurPermintaan Tenun Troso NaikJEPARA-Surat edaran Gubernur Jateng soal kebijakan memakai batik dan lurik bagi pegawai negeri sipil (PNS) di seluruh Jateng pada hari Kamis dengan masa percobaan 12 Mei-11 Agustus 2005, berdampak positif terhadap pasar tenun ikat tradisional Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, Jepara. Para perajin mengatakan dua pekan terakhir permintaan produk unggulan Jepara itu naik drastis. Beberapa show room di desa berpenduduk 18.125 jiwa itu ramai oleh para pengunjung baik yang hendak memesan maupun membeli. Mulyanto (45), salah seorang perajin dan pemilik show room menyebutkan peningkatan permintaan tenun troso sebenarnya sudah mulai terasa sejak dua tahun lalu. Terutama sejak perajin memproduksi tenun berbahan sutera yang didesain dalam bentuk batik dan bordir. Namun, dua pekan terakhir permintaan meningkat sangat tajam seiring dengan kebijakan gubernur tersebut. Permintaan tenun ikat batik lurik tradisional meningkat hingga 100% dari hari-hari sebelumnya. ''Jika sebelumnya rata-rata terjual 100 m/hari, maka dua pekan terakhir pesanan tenun ikat naik menjadi 200 m/hari atau rata-rata 6.000 m/bulan. Padahal sebelumnya tenun ikat salah satu produk yang pemasarannya mandek,'' ujarnya, kemarin. Menurut dia, permintaan terbesar berasal dari Jepara sendiri. Namun sejak dua pekan lalu pemesan dari luar daerah mulai ramai. Untuk merespons trend pasar yang positif, Bupati Jepara Drs H Hendro Martojo MM yang akhir pekan lalu meninjau beberapa perajin mengimbau agar momentum tersebut bisa dipertahankan. ''Jangan sampai ada penurunan kualitas produk dan permainan harga di antara sesama perajin dan pengusaha,'' tegasnya. Data akhir 2004 menunjukkan ada 191 unit usaha tenun ikat di Troso dengan nilai investasi Rp 1,3 miliar, volume produksi 3,1 juta m, dan nilai produksi Rp 54,4 miliar. ''Diharapkan momentum peningkatan pesanan bisa meningkatkan volume produksi dan nilai investasi. Paling tidak dipertahankan,'' tambah Bupati. (mds-27) |