| Selasa, 17 Mei 2005 | BUDAYA |
Ancaman Darth Vader Mirip Ucapan BushCANNES - Meskipun tanpa Michael Moore dan filmnya Fahrenheit 9/11, Festival Film Cannes kali ini ternyata masih juga diwarnai sindiran politik. Paling tidak, sindiran itu terlihat dalam karya sutradara George Lucas, Star Wars: Episode III - Revenge of the Sith. Tema-tema demokrasi dan penguasa yang gila perang mencuat dalam karya Lucas tersebut, yang diputar untuk kali pertama Minggu lalu di Cannes. Tak pelak, para penonton pun mencatat kemiripan bagian terakhir Star Wars itu dengan isu-isu yang dihadapi dunia saat ini. Kisah tokoh Anakin Skywalker yang jatuh ke dunia kegelapan dipandang mirip dengan politik luar negeri Presiden George W Bush yang ditandai dengan perang melawan terorisme dan invasi AS terhadap Irak. Simak dua petikan dialog dalam film itu. ''Ini menunjukkan, betapa kebebasan telah mati. Dan tepuk tangan bergemuruh mengiringi kematiannya,'' kata Padme Amidala (diperankan Natalie Portman). Dia mengatakan hal itu ketika Senat menyambut gembira diktator Palpatine (Ian McDiarmid) yang mengumumkan perang terhadap Jedi. ''Jika kalian tidak bersamaku, maka kalian musuhku,'' kata Anakin (Hayden Christensen) yang berubah menjadi Darth Vader, kepada Obi-Wan Kenobi (Ewan McGregor). Kalimat Anakin itu sangat mirip dengan ultimatum Bush setelah serangan teroris 11 September 2001 di wilayah Amerika Serikat. Dia saat itu mengatakan, ''Anda ingin bersama kami atau bersama para teroris.'' ''Itu jelas sangat mirip dengan ucapan Bush,'' kata Liam Engle (23), warga Amerika keturunan Prancis yang mengagumi Lucas. ''Walaupun skenario film itu ditulis bertahun-tahun lalu, sentimen anti-Bush jelas terlihat,'' tambah dia. Perubahan Politik Film itu mulai diedarkan secara luas di Eropa, Rabu besok, dan di AS mulai Kamis lusa. Dalam pemutaran perdana di Cannes Minggu malam lalu, sejumlah aktor berparade dengan mengenakan kostum stormtrooper berwarna putih. Mereka berjalan di karpet merah sambil diiringi orkestra yang memainkan lagu tema film tersebut. Lucas mengatakan dia mulai menulis ceritanya setelah ada perubahan politik dari zaman kebebasan menuju fasisme. Namun, dia tidak menyebutkan kapan trilogi sebelumnya, yang beredar pada 1990-an, itu ditulis. Trilogi tersebut menggambarkan fantasinya tentang antariksa. ''Saya kira, semua itu tidak mirip. Saya juga berharap, apa yang ada di film ini tidak menjadi kenyataan di negara kami,'' kata Lucas dalam konferensi pers di Cannes. ''Meskipun demikian, film ini mungkin mengingatkan orang tentang situasi tertentu,'' tambah dia. Komentarnya itu seakan mengulangi retorika yang dilontarkan oleh Moore di Cannes tahun lalu. Saat itu, film dokumenter Moore, Fahrenheit 9/11 meraih penghargaan tertinggi Palme d'Or. (yahoo,benu-43) |