| Selasa, 17 Mei 2005 | BANYUMAS |
Ekosistem Segara Anakan Terancam HilangCILACAP- Keunikan ekosistem laguna Segara Anakan di Kabupaten Cilacap terancam hilang akibat sedimentasi begitu cepat. Sebab, Segara Anakan merupakan titik pertemuan beberapa muara sungai, antara lain Citanduy, Cimeneng, Cibeureum, dan Cikonde. Keunikan itu terancam hilang karena semua lumpur dari berbagai sungai langsung masuk ke laguna. Setiap tahun lumpur yang masuk dan mengendap di laguna 1 juta m3. Direktur Pusat Studi Kebijakan Lingkungan (Pusaka) Chabibul Barnabas ST, Rabu (11/5), menyatakan sungai yang menyumbang lumpur terbanyak ke Segara Anakan adalah Citanduy, yakni 740.000 m3/tahun. ''Tingkat sedimentasi tinggi di Segara Anakan tidak hanya membuat laguna mendangkal, tetapi juga mempersempit wilayah perairannya.'' Bila Segara Anakan dibiarkan begitu saja jelas mengancam kelangsungan hidup beberapa biota laut. Sebab, laguna itu menjadi pusat pemijahan berbagai biota laut, terutama ikan, udang, dan kepiting. Jika fungsi itu hilang, potensi hasil tangkapan ikan, udang, dan kepiting di pesisir selatan Pulau Jawa pun menurun dratis. Padahal, potensi itu bernilai ekonomi sangat tinggi. ''Sekitar 20 tahun lalu Segara Anakan bisa menghidupi belasan ribu nelayan. Namun sekarang hasil tangkapan nelayan berkurang dratis akibat Segara Anakan mendangkal dan menyempit,'' kata Chabibul Barnabas. Dia menyatakan perlu konsep konservasi yang mengutamakan penyelamatanlaguna. Masyarakat dapat menerima konsep berupa penyelamatan hutan mangrove dan rehabilitasi lahan di kawasan daerah aliran Sungai Citanduy. Semua lahan kritis di kawasan itu harus segera dihijaukan kembali. Tanpa diimbangi rehabilitasi lahan kritis itu, penyelamatan Segara Anakan sulit diwujudkan. Bila lahan kritis di daerah aliran Sungai Citanduy dibiarkan begitu saja, pada musim hujan jutaan meter kubik lumpur yang terbawa pun tetap terbawa ke laguna. (ag-53) |