logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 14 Mei 2005 MURIA
Line

Melihat Seni Tradisional yang Tetap Eksis

Lesung, Disuguhkan lantaran Keunikannya

DENGAN sigap, empat orang ibu yang sudah berusia cukup tua memukulkan alu (penumbuk padi) ke sebuah lesung. Namun mereka bukan hendak menumbuk padi yang telah dipanen, melainkan tengah menyuguhkan permainan musik lesung di hadapan penonton.

Suara yang ditimbulkan dari pukulan alat penumbuk padi itu menghasilkan irama yang enak didengar. Empat buah lagu tradisional jawa mengiringi bunyi yang ditimbulkan dari lesung ini.

Empat wanita yang berasal dari Desa Ledok Kecamatan Sambong, Blora ini merupakan satu grup yang dibentuk khusus untuk melestarikan kesenian musik lesung.

"Kami memang sengaja membentuk grup musik lesung ini karena kami ingin melestarikan kesenian masyarakat Jawa tempo dulu," ujar Sisworo, pembina grup musik ini kepada Suara Merdeka, beberapa waktu lalu.

Sisworo yang juga Public Relation Cepu International Heritage Club (CIHC) -sebuah klub tempat berhimpunnya turis mancanegara yang datang ke Cepu-itu mengatakan, grup musik lesung merupakan salah satu objek wisata yang selalu dipertontonkan saat para turis tersebut datang ke Cepu dan sekitarnya.

Turun-temurun

Menurut Sisworo, ratusan anggota CIHC yang berasal dari berbagai negara, tiap tahun dipastikan akan datang mengunjungi berbagai objek wisata di Cepu.

Menurutnya, selain mengujungi loko wisata peninggalan Belanda yang sampai kini masih terawat dengan baik dan penambangan minyak secara tradisional, turis mancanegara tersebut disuguhi pula kesenian khas warga Desa Ledok.

Sisworo menceritakan, kehadiran ratusan anggota CIHC ini disambut oleh warga Desa Ledok dengan suguhan seni tradisional. Di antaranya tayub, langgam jawa (nyanyian jawa-Red), dan penampilan musik lesung.

Sisworo mengaku tak banyak yang dia lakukan untuk membina grup musik tersebut. Dia mengemukakan, ibu-ibu itu memang mempunyai keahlian turun-temurun sehingga tanpa harus latihan pun mereka sudah siap untuk tampil.

"Mereka sudah mahir. Paling-paling kami hanya mengatur apa saja yang hendak mereka suguhkan kepada penonton," tuturnya.

Kepala Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Blora Didik Lukardono menyatakan salut dengan upaya yang dilakukan oleh warga untuk melestarikan seni tradisional ini.

Menurutnya, dengan kemauan sendiri, mereka mau dan mampu memberikan yang terbaik bagi daerahnya. "Saya salut terhadap upaya ibu-ibu ini," ujarnya. (Abdul Muiz-15n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA