| Sabtu, 14 Mei 2005 | SEMARANG |
Berjalan Kaki 10 Km Berdagang Jajanan Lawe-laweKABUT tipis masih enggan beranjak pergi, tatkala matahari hampir sejajar di atas ubun-ubun kepala. Jauh dari hiruk pikuk perkotaan, suasana siang itu di lahan pertanian cabai Desa Tamping Winarno, Kecamatan Sukorejo, Kendal, masih terbalut ketenangan dan sejuknya cuaca. Hamparan menghijau ribuan pohon karet tampak mengelilingi lahan pertanian yang terletak di lereng Gunung Perahu itu. Ditimpali kicau satu-dua burung liar yang terdengar nyaring, terlihat belasan buruh perempuan pemetik cabai sedang melakukan aktivitasnya. Di antara perpaduan alam itulah, Sabar Kasrofi (65), sejak tujuh tahun silam melakukan rutinitas pekerjaannya sebagai penjual jajanan lawe-lawe. Disebut jajanan lawe-lawe karena dulunya aneka ragam makanan yang dijual tersebut seluruhnya memiliki harga Rp 25/buah (bahasa Jawa selawe-Red). Seperti biasanya, lelaki uzur berperawakan kecil pada siang itu tampak menyusuri jalan setapak di sela-sela rimbunnya tanaman cabai. Kondisi tanah agak sedikit becek akibat guyuran hujan semalam. Kendati di pundaknya terpikul dua angkring besar berisi jajanan, dua kakinya mampu menapak lincah, seolah tanpa beban. Tangan kanannya tiada henti membunyikan bel tolat-tolet, sembari mulutnya berteriak ''lawe-lawe, lawe-lawe...'' ''Apabila berisi penuh jajanan seperti ini, bobot dua angkring yang saya pikul lebih kurang mencapai 60 kilogram. Jajanan lawe-lawe yang dijual ada sekitar 48 jenis. Selain jajanan utama berupa nasi meniran dengan lauk-pauk sayur daun singkong, ada juga arem-arem, roti, kacang goreng, bakwan, tahu, wedang asem, dan wedang jahe,'' papar Sabar Kasrofi, seraya mencabut sebatang rokok lintingan dari bibirnya. Didukung suasana yang ada, hampir seluruh jajanan yang dijual warga RT 10 RW 5 Dukuh Petung, Desa/Kecamatan Pageruyung, Kendal tersebut terasa nikmat saat Suara Merdeka dan beberapa rekan mencoba mencicipinya. Harga setiap jajanan kini tak lagi Rp 25/buah, namun dijual Rp 250/buah. Meski demikian, harga tersebut masih sangatlah murah untuk kondisi saat ini. Berjalan 10 km/hari Untuk menjajakan makanan itu, Sabar Kasrofi harus keluar-masuk kampung, dari yang satu ke kampung lainnya. Desa Kalibagor, Petung, Tamping Winarno, Sukorejo, dan Mendono adalah beberapa nama desa yang setiap hari dijelajahinya. ''Setiap hari, saya berjalan kaki memikul angkring yang jaraknya tak kurang dari 10 kilometer. Beragam orang membeli jajanan kami, mulai dari guru, murid-murid sekolah, petani maupun anak-anak kecil. Saya merupakan salah satu dari 39 pedagang lawe-lawe yang tergabung dalam Paguyuban Bakul Jajan Sukorejo,'' tutur Sabar yang juga tergolong pedagang lawe-lawe tertua ini. Seluruh jajanan yang dijual Sabar Kasrofi adalah titipan dari sentra rumah industri makanan kecil di Desa/Kecamatan Sukorejo. ''Sebelum berangkat jualan, saya harus mengambil dagangan dari rumah produksi itu. Setiap hari, saya berangkat berjualan pukul 05.00 dan sering pulang pukul 18.00. Jika jajan yang saya jual ini habis seluruhnya, maka keuntungan yang saya peroleh berkisar Rp 20.000/hari. Dari satu makanan yang terjual, saya memperoleh keuntungan Rp 20-Rp 50,'' jelas ayah dari tujuh anak ini. Keuntungan total yang diperoleh dari menjual seluruh jajanan itu, lanjut suami Ny Sarmi (50) itu, masih kotor. ''Sebab, keuntungan itu belum dikurangi ongkos naik angkutan pulang-pergi dari rumah di Pageruyung menuju ke rumah industri di Sukorejo. Kemudian untuk membeli makan dan minum. Barang dagangan yang tidak habis dijual, dapat saya kembalikan kepada pemiliknya.'' Pihaknya bersyukur pada Tuhan Yang Kuasa. ''Di usia tua ini, saya masih diberi kesehatan dan bisa bekerja menghidupi keluarga.'' (Setyo Sri Mardiko-56m) |