| Sabtu, 14 Mei 2005 | SEMARANG |
Anak-anak Belajar Kelola RadioLAGAK Anisa Haidafri dan Eko Puji Isdiyanto, sudah seperti penyiar kawakan saja. Anisa tak kagok bercuap-cuap di depan corong mikropon, sementara Eko lincah memainkan mixer untuk mengatur keluaran suara. Tapi benarkah mereka praktisi kepenyiaran profesional? Mereka berdua masih mengenakan seragam sekolah dengan badge lokasi SMKN 1, Jalan Dr Cipto, Semarang di lengan kanan. Begitu pula, sejumlah pelajar yang merubung di belakangnya. Ya, Anisa dan Eko Puji adalah siswa Teknik Penyiaran SMKN 1, yang tengah siaran di Radio Smaksa FM. Seminggu lalu, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, radio milik sekolah itu resmi mengudara. ''Sobat pelajar, baru saja kita simak wawancara dengan Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang Bapak Drs Sri Santoso, langsung dari Aula SMKN 1. Sekarang, kita akan menikmati satu tembang manis 'Bila Kuingat' dari Lingua. Tetap stay tune di 107,7 Smaksa FM, radionya pelajar,'' ucap Anisa. Lantas, Eko yang bertindak sebagai operator dengan sigap memainkan peranti siar. Sejurus kemudian, lagu pop manis mengalun dari perangkat MP3, yang berada di belakangnya. Begitulah, aktivitas yang mudah ditemui saban hari di studio Smaksa FM, yang terletak di salah satu sudut SMKN 1. Radio itu diniatkan sebagai laboratorium tempat praktik, sekaligus ruang berekspresi bagi siswa. Tak heran, para siswa Teknik Penyiaran yang berjumlah 34 orang itu terlihat bersemangat mengelola radionya. Mereka pun berbagi peran, sesuai kebutuhan operasional sebuah stasiun radio. ''Ada yang jadi penyiar, programmer, music director, operator, hingga reporter,'' papar Entin Sania Nur Hidayah, produser studio. Dia menjelaskan, secara berkala dilakukan pergantian peran sehingga para siswa bisa mempelajari profesi kepenyiaran secara komprehensif. Untuk mengelola radio itu, para siswa dibagi menjadi tiga kelompok besar, yang masing-masing terdiri atas 10-11 anak. Kelompok-kelompok itulah yang bertanggung jawab atas operasional radio. Di Tangan Siswa Boleh dibilang, pengelolaan radio itu berada di tangan siswa. Tidak saja dalam operasional siaran, penataan program juga dilakukan oleh siswa. Sejak beberapa waktu lalu, mereka berembuk untuk menggagas program-program siaran yang akan ditayangkan. Hasilnya, lahirlah program hiburan semacam Tembang Kecapi (Tembang Keroncong dan Campursari), Digoda Dong Ah!, Snada, hingga program-program ''serius'' semacam Berita Hari Ini, atau Supel Smaksa (Suara Pelajar Smaksa). ''Itu disesuaikan dengan target pendengar Smaksa FM, yakni kalangan pelajar,'' imbuh Entin. Sementara itu, Kepala SMKN 1 Drs Bunyamin menjelaskan, pendirian studio radio di sekolahnya merupakan upaya untuk memberikan kompetensi kepenyiaran bagi para siswanya. Untuk itu, dia juga melibatkan para praktisi kepenyiaran di Semarang untuk memberi bekal pengetahuan dan keterampilan kepada siswanya. ''Sejauh yang saya tahu, belum banyak sekolah yang spesifik tentang broadcasting. Padahal, peluang kerja untuk kepenyiaran terbuka lebar. Paling tidak, ratusan stasiun radio yang ada di Jateng merupakan bukti peluang itu,'' kata dia. (Achiar M Permana-36) |