logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 14 Mei 2005 SEMARANG
Line

Biaya Pendidikan SMK di Jateng Paling Murah

  • Juga Paling Efektif Pengelolaannya

SEMARANG-Biaya pendidikan untuk jenjang SMK di Jateng tercatat paling murah, jika dibandingkan provinsi lain di Indonesia.

Demikian disampaikan pakar pendidikan dari Unnes Dr Achmad Slamet MSi, dalam seminar tentang investasi pendidikan belum lama ini. Dalam setahun, siswa SMK di Jateng memerlukan biaya pendidikan sebesar Rp 11.469.000, jauh lebih kecil daripada biaya pendidikan SMK di Bali Rp 16.880.000. Bali memiliki biaya pendidikan SMK paling mahal se-Indonesia.

''Besaran satuan biaya pendidikan yang dikeluarkan untuk mendidik satu orang siswa dalam satu tahun menunjukkan perbedaan yang signifikan. Itu bisa terjadi, karena biaya pendidikan untuk jenjang yang lebih tinggi akan lebih besar dibandingkan untuk jenjang yang lebih rendah.''

Dia menjelaskan, DKI Jakarta merupakan provinsi dengan biaya pendidikan yang paling mahal untuk setiap siswa per tahun pada skala provinsi pada jenjang SD/MI, yaitu sebesar Rp 14.531.000.

Biaya pendidikan paling murah pada jenjang yang sama dicatat oleh NTB (Rp 6.623.000). DKI Jakarta juga paling mahal untuk jenjang SMP/MTs (Rp 18.499.000) dan yang paling murah NTB (Rp 8.615.000). Pada jenjang SMA/MA, biaya yang paling mahal di Bali (Rp 16.037.000) dan paling murah NTB (Rp 9.554.000).

''Tapi, murah atau mahalnya biaya pendidikan itu tidak berkait langsung dengan hasil belajar. Sebab, masih banyak faktor lain yang melingkupi kompleksitas penyelenggaraan pendidikan.''

Di samping itu, dia menambahkan, Jateng juga tercatat sebagai provinsi dengan tingkat keefektivan biaya pendidikan tertinggi pada jenjang SMA/MA dan SMK.

Tingkat keefektivan biaya pendidikan SMA/MA di Jawa Tengah tercatat 99,12%, sementara yang terendah Sumatera Utara, yakni 92,46%.

Adapun pada jenjang SMK, tingkat keefektifan biaya pendidikan di Jawa Tengah sebesar 99,90% dan yang paling rendah adalah DKI Jaya, yakni 99,59%.

Tingkat keefektifan biaya pada pendidikan SD yang paling tinggi adalah Sumatera Barat (100%), dan yang paling rendah Lampung (98,77%).

Pada jenjang SMP/MTs, yang paling tinggi Gorontalo (99,71%) dan paling rendah DKI Jakarta (98,68%). Secara umum, jenjang yang paling tinggi tingkat keefektivan biaya pendidikannya adalah SD/MI (99,94%), disusul SMK (99,44%), SMP/MTs (98,89%), dan SMA/MA (97,19%).

Program Unggulan

Dalam setahun, papar Achmad Slamet, rerata satuan biaya pendidikan per siswa pada jenjang SD/MI Rp 8.940.420, SMP/MTs Rp 11.973.680, SMA/MA Rp 13.850.970, SMK Rp 14.994.650. Bagian terbesar dari biaya itu ditanggung oleh orang tua siswa, yakni sebesar Rp 6.895.370 (SD/MI), Rp 7.777.800 (SMP/MTs), Rp 9.856.590 (SMA/MA), dan Rp 10.533.870 (SMK).

''Selebihnya ditanggung oleh sekolah, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, dan pusat.''

Terpisah, Ketua Dewan Pendidikan Kota Semarang Dr Rasdi Ekosiswoyo MSc menyatakan, pengelolaan SMK tidak cukup mengandalkan efisiensi saja.

''Setiap SMK harus memiliki program unggulan yang marketable, yang kemedol (layak jual-Red). Kalau tidak, hampir bisa dipastikan, SMK itu akan tertinggal dari sekolah lainnya.''

Setiap sekolah perlu menonjolkan satu kelebihan yang berbeda dari sekolah lainnya. Hal itu diperlukan untuk bisa menghasilkan lulusan yang bernilai plus dan siap bersaing di pasar kerja. (amp,H7-36)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA