| Sabtu, 14 Mei 2005 | SEMARANG |
Problema Rob yang Tak Pernah Tuntas (3 Habis)Kali Semarang Dipasangi Pintu AirPEMASANGAN pompa dan pintu air yang merupakan bagian dari sistem polder memang merupakan salah satu cara penanganan rob. Terbukti dengan cara itu, untuk jangka pendek beberapa kawasan bisa ''terhindar'' dari genangan. Cara semacam itulah yang ditawarkan ahli hidrologi Dr Ir Nelwan Dipl HE, saat bertemu dengan komisi C DPRD Kota Semarang, belum lama ini. Menurut dia, rob di beberapa wilayah, termasuk Jalan Pemuda, Jalan Agus Salim, dan kawasan perumahan Tanah Mas sudah makin parah. Nelwan pun menawarkan alternatif, yakni memasang pintu air di muara Kali Semarang. Pintu air itu harus bisa dibuka dan ditutup sesuai kebutuhan. Saat air laut pasang, pintu ditutup dan air dari Kali Semarang bisa dibuang dengan menggunakan pompa. Ketika air laut surut, pintu bisa dibuka. sehingga air dari Kali Semarang bisa mengalir ke laut. Cara itu menurut dia, cukup efektif untuk membebaskan genangan rob di wilayah yang cukup luas, termasuk kawasan kota lama dan Pasar Johar. Bahkan cara itu memungkinkan wilayah Perumahan Tanah Mas dan sekitarnya juga bisa terhindar dari rob. Nelwan kemudian menjelaskan Kali Asin yang melalui Jalan Hasanudin, bermuara di Kali Semarang. ''Jadi kalau dibangun pintu air di muara Kali Semarang, warga yang tinggal di sekitar Kali Asin pun ikut menikmati manfaatnya,'' kata dia. Cara serupa, menurut dia nantinya dapat dilakukan di sungai lain, termasuk Kali Banger dan Kali Tenggang. Namun karena keterbatasan dana yang dimiliki Pemerintah, dia mengusulkan hal itu terlebih dulu dilakukan di Kali Semarang. Pendapat Nelwan ini sebenarnya tak jauh beda dengan cara yang diusulkan PT Asiana Technologies Lestary untuk menangani Kali Banger. Hanya saja untuk Kali Banger, masih harus dilakukan perhitungan teknis lagi, karena perhitungan yang ada belum tepat. Tidak Efektif Nelwan mengakui, pemasangan pompa dan pintu air merupakan penanganan sementara. Semua peralatan itu, suatu ketika akan tidak efektif akibat berbagai faktor, salah satunya penurunan tanah. Diakuinya, penanganan rob membutuhkan kajian primer yang detail. Kajian itu bukan hanya meneliti penurunan tanah, tetapi juga mencari penyebab utama rob. Namun penelitian itu, bukan hanya membutuhkan dana besar, tetapi juga waktu lebih dari satu tahun. ''Dana yang dibutuhkan, diperkirakan sampai Rp 10 miliar,'' kata dia. Pendapat senada dilontarkan pakar hidrologi Undip Dr Ir Robert Johanes Kodoatie. Menurut dia penelitian semacam itu, sebenarnya jauh lebih murah dibanding dana masyarakat untuk menguruk dan meninggikan rumah. Sementara itu Kasubdin Pengairan DPU Kota Semarang Ir Prasetyo Kentjana Dipl HE berpendapat, penanganan rob memang tidak terlepas dari cara pandang tentang sungai. Sungai dan saluran, selama ini hanya dipandang sebagai alur untuk mengalirkan air dari hulu ke hilir. Sementara untuk rob, air justru mengalir dari hilir ke hulu. (Purwoko Adi Seno-33) |