logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 14 Mei 2005 EKONOMI
Line

Petani Tembakau Khawatir Harga Anjlok Lagi

TANAMAN tembakau di Boyolali yang kebanyakan jenis rajangan sebagian besar dibudidayakan di berbagai desa Kecamatan Selo. Daerah itu terletak di lereng gunung sehingga suhu udaranya yang dingin cocok untuk menanam bahan baku pabrik rokok tersebut.

Wartono (34) petani tembakau di Desa Jeruk, Kecamatan Selo menuturkan saat ini tanaman tembakau sudah berumur satu bulan dan diharapkan akhir Agustus nanti sudah panen.

Dia mengaku sangat khawatir harga tembakau akan kembali anjlok sebagaimana yang terjadi pada tahun lalu.

''Kami para petani tembakau meminta pemerintah mau peduli pada nasib kami sehingga harga tidak jatuh lagi,'' tuturnya, kemarin. Camat Selo Drs Luwarno mengatakan kuota areal tanaman tembakau di wilyahnya sekitar 350 ha. Dibandingkan dengan tahun lalu luasan itu turun.

Namun melalui penurunan areal tanaman itu diharapkan harga menjadi lebih baik dan stabil. Dengan demikian petani tembakau tidak merugi.

''Begitu perangkat desa memberitahu tentang kuota tanaman tembakau, para petani pun membatasi luas tanaman sehingga tidak terjadi produksi berlebihan,'' jelasnya.

Kurang Berpihak

Sementara itu Purwanto, Koordinator LSM Masyarakat Peduli Hukum dan Kebijakan menyesalkan penurunan kuota areal tembakau pada musim tanam tahun ini.

''Hal itu menandakan pemerintah kurang berpihak kepada petani. Kalau peduli dan berusaha menjaga harga, maka luas areal tidak dibatasi atau diturunkan,'' ujarnya.

Tanpa menjelaskan berapa penurunan kuota areal tanaman tembakau, ia minta pemerintah terus memantau. Selain itu, membangun atau mendirikan gudang tembakau dan melobi pabrikan agar pemasaran stabil.

''Jika harga stabil maka pemasaran tidak terombang-ambing sehingga petani dapat kembali modal. Jangan seperti tahun lalu, petani terpaksa menombok karena harga jatuh,'' tegasnya.

Purwanto bersama elemen masyarakat dan petani Agustus tahun lalu secara simbolis membakar daun tembakau di halaman kantor Sekretariat Daerah (Setda).

Pembakaran daun tembakau itu sebagai bentuk kekecewaan dan protes atas kemerosotan harga tembakau. Pada musim tanam tahun lalu harganya hanya Rp 1.000-Rp 1.200/kg. (Suti Harjoyo-27)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA