| Sabtu, 14 Mei 2005 | EKONOMI |
H Aris Suwandi Pengusaha GarmenBerawal dari Dua Mesin JahitMELIHAT kondisinya sekarang mungkin banyak yang tak percaya perusahaan garmen CV Bhakti Garmindo Utama dulu berawal dari sebuah kios jahit kecil dengan dua mesin jahit dan satu mesin obras. Kini usaha tersebut telah berkembang pesat. Bahkan pasar ekspor telah ditembus. Suatu sukses besar untuk ukuran usaha kecil di kota kecil pula, yakni Klaten. Saat ini didukung 30 karyawan setiap hari perusahaan garmen di Jalan Veteran101 Klaten itu memproduksi 30-40 potong pakaian. Mulai jas, kemeja, baju muslim, celana, hingga kebaya, dan sebagainya. Produknya tidak hanya beredar di wilayah Klaten, namun sudah menyebar ke berbagai daerah. Antara lain Yogyakarta, Semarang, Magelang, dan Solo. Kalau Anda pernah melihat merek Arie&Co, maka itulah merek pakaian yang sudah menjadi hak paten CV Bhakti Garmindo Utama. Sukses usaha itu tak lepas dari kerja keras pemiliknya, H Aris Suwandi, yang didukung oleh seluruh karyawannya. ''Tahun 1983 saya mulai merintis usaha ini. Dibantu para karyawan saya berusaha keras memajukan hingga menjadi seperti sekarang,'' ujarnya kepada Suara Merdeka, kemarin. Aris tidak mengira usahanya akan berkembang pesat. Apalagi jika mengingat masa awal memulai usaha tersebut. ''Saya hanya bermodal dua mesin jahit dan satu mesin obras. Tempatnya pun menyewa salah satu rumah di pinggir jalan kawasan Klaten Utara,'' tuturnya. Seragam Puskesmas Namun dengan tekad dan kerja keras ia menekuni usahanya. Pada tahun-tahun awal masih melayani pesanan perorangan. Kemudian memperoleh pesanan dalam jumlah banyak dari pemerintah daerah. ''Waktu itu saya mendapat pesanan membuat seragam pegawai puskesmas di seluruh Klaten. Itulah awal saya mulai menerima pesanan lumayan banyak,'' jelasnya. Usahanya terus berkembang. Bersamaan dengan pembentukan sebuah koperasi bekerja sama dengan pemerintah, pihaknya mendapat pesanan membuat pakaian untuk ekspor dari perusahaan garmen besar di Sukoharjo. Karyawannya pun bertambah, bahkan pernah mencapai 90 orang. ''Sehari kami ditarget mengirim 500 potong kemeja, sehingga harus menambah tenaga untuk memenuhi target tersebut,'' katanya. Beberapa tahun setelah bekerja sama dengan pemerintah, ia berniat mandiri. Lalu tahun 1991 mendirikan CV Bhakti Garmindo Utama. Meski karyawannya sekarang tinggal 30 orang, tetapi saya lebih puas karena mandiri. Saat ini walaupun ekspor masih vakum, ia tak patah semangat. Pasar lokal digarap sehingga produknya menyebar di berbagai daerah Jateng. ''Bagi saya yang penting berusaha keras. Dengan usaha keras apa pun bisa dilakukan. Sekarang saya mencoba pasar luar negeri secara mandiri, tak bergantung pada perusahaan lain,'' tandasnya. (Wisnu Kisawa, Merawati Sunantri-27) |