| Jumat, 13 Mei 2005 | PANTURA |
Sawah Dekat Rel Paling Banyak Diserang Tikus
BATANG - Hama tikus yang menyerang tanaman padi di Kabupaten Batang, paling banyak menimpa sawah yang dekat dengan rel kereta api. Sebab bawah rel yang berupa tumpukan batu itu menjadi sarang ribuan tikus. Padahal biasanya, petani mengadakan gropoyokan dalam rangka membasmi tikus, selalu dilakukan dengan membongkar sarangnya. Namun karena berada di bawah rel yang berupa tumpukan batu, tidak ada petani yang berani membongkarnya. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Batang melalui Kasubdin Tanaman Pangan Ir Wondi Ruki T ketika dihubungi kemarin membenarkan, dari 12 kecamatan, areal sawah yang paling banyak diserang hama tikus berada di sebelah utara. Khususnya sepanjang jalur rel KA pantai utara (pantura). Berdasarkan data pada 16-31 April 2005, tikus menyerang di wilayah Kecamatan Gringsing dan Limpung. "Seperti yang terjadi di Gringsing, tikus menyerang 114 hektare sawah, sedang di Limpung 17,2 hektare. Padahal di daerah atas seperti Bandar maupun Wonotunggal, sama sekali tidak ada sawah yang diserang tikus," ucapnya. Dinas Pertanian melakukan pendataan tanaman satu bulan dua kali. Itu dilakukan agar selama masa pertumbuhan, tanaman bisa terpantau terus. Dia menambahkan, serangan hama tikus itu sebenarnya bisa ditanggulangi apabila setiap habis panen ada waktu sela. Dalam artian, lahan tidak langsung ditanami kembali. "Namun banyak sawah yang disewakan dan penyewa ingin mendapat keuntungan sehingga tidak mengikuti pola tanam. Begitu panen langsung ditanam, padahal untuk menghilangkan hama, paling tidak harus satu bulan dibiarkan bero terlebih dahulu." Meskipun demikian, menurut Kasi Produksi Padi dan Palawija Sutarjo SP, serangan hama tikus itu tidak sampai menggangu hasil. Bahkan hasil panenan padi tetap surplus. "Sekarang ini, luas areal sawah yang ditanami padi mencapai 8.036 hektare sedangkan yang diserang hama tikus hanya sekitar 149 hektare. Karena itu total produksi padi tetap baik, yakni mencapai 84.475 ton gabah kering giling." Sementara itu untuk menanggulangi hama tersebut, petani bersama pihak Dinas Pertanian mengadakan operasi gropyokan untuk memberantasan hama secara beramai-ramai. Di antaranya dengan memberi racun dan mengompori lubang-lubang sarang tikus. Serempak Koordinator Pengawasaan Hama Susbandoro mengatakan, pihaknya mengimbau kepada para petani agar ketika menanam dilakukan secara serempak. Demikian juga ketika pemberantasan, harus dilakukan bersama-sama. Khususnya yang berada di sepanjang rel antara Batang dan Gringsing yang jumlah tikusnya diduga mencapai ratusan ribu lebih. Warham, petani asal Dusun Bleder, Desa Tegalsari, Kecamatan Tulis membenarkan bawah rel merupakan tempat sarang tikus. Namun dia tidak bisa berbuat banyak karena untuk membasmi hama itu tidak mungkin dilakukan dengan membongkar rel KA. "Saya paling jengkel kalau sudah musim tikus. Biasanya jumlahnya mencapai ratusan ribu dan menyerang tanaman padi pada malam hari, binatang itu aman karena sarangnya berada di bawah rel yang berupa tumpukan batu-batu dan tidak mungkin dibongkar," ujar dia ketika ditemui sedang menggarap sawah di daerah Sambong Utara. Jalan satu-satunya yang dia lakukan bersama petani lainnya adalah mengompori lubang dengan asap. "Kalau sarangnya di tanah bukan di bawah rel, membasminya mudah. Begitu dibongkar, tikus bisa langsung dibunuh. Padahal setiap lubang berisi paling tidak, 10 ekor tikus,"paparnya.(ar-17m) |