logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 13 Mei 2005 PANTURA
Line

Musim Paceklik, Nelayan Jadi Tukang Ojek

MENGHADAPI masa paceklik (minimnya hasil tangkapan laut-Red) seperti sekarang, para nelayan di Kelurahan Muarareja, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal mencoba berbagai cara untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Sebagian dari mereka kini menekuni perkerjaan yang tak biasa mereka jalani sebelumnya. Di antaranya ada yang menjadi tukang ojek, penarik becak, buruh bangunan, atau pekerja di pabrik. Bahkan sebagian dari mereka terpaksa memilih mengadu nasib ke negara-negara tetangga. Dari data yang ada di Kelurahan Muarareja, setidaknya 15 orang berangkat untuk bekerja di luar negeri.

Meski demikian, masih banyak pula warga yang kebingungan mencari pekerjaan. Pasalnya, mereka rata-rata hanya lulus sekolah dasar (SD). Karena itu, kecil kemungkinan bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Adapun keahlian yang mereka miliki rata-rata hanya sebagai nelayan dan buruh tambak.

Jumlah penduduk kampung itu 5.646 jiwa terdiri atas 2.903 laki-laki dan 2.743 wanita. Mata pencaharian mereka 80% adalah nelayan, sedangkan sisanya bekerja sebagai petani tambak, buruh bangunan, dan beternak itik. Luas kelurahan itu 460 ha terdiri atas tiga rukun warga (RW) dan 14 rukun tetangga (RT). Kelurahan Muarareja sudah sejak lama dikenal sebagai pemasok ikan ataupun hasil laut lain di wilayah Tegal dan sekitarnya. Dengan minimnya hasil laut yang selama sebulan terakhir, otomatis perekonomian masyarakat ikut lesu. Bahkan bisa dikatakan lumpuh.

Karyad (55), warga RT 3 RW 1, yang mengaku menjalani kehidupan nelayan sejak masih muda itu mengatakan, musim paceklik ini menyulitkan ekonomi warga. Pasalnya, pekerjaan sebagai nelayan saat ini kurang menguntungkan.

Karyad menjelaskan, minimnya hasil tangkapan disebabkan oleh adanya perubahan arah angin yang semula angin barat menjadi angin timur. Dengan adanya perubahan angin tersebut, ikan di laut banyak yang berpindah ke wilayah perairan lain. Menghadapi masa sulit seperti ini, dirinya dan nelayan lain memilih tidak melaut. Sebab kalau nekat melaut bisa dipastikan akan mengalami kerugian.

Cari Pinjaman

Sementara itu, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya yang terdiri atas seorang istri dan enam anak, ia terpaksa mencari pinjaman ke tetangga ataupun ke koperasi simpan pinjam. Kondisi demikian juga dialami sebagaian besar warga.

Oleh karena itu, ia meminta Pemkot Tegal melalui intansi yang terkait untuk memberikan solusi yang tepat. "Uluran tangan dari pemerintah sangat kami harapkan, sebab saat ini warga sudah dalam keadaan memprihantinkan," katanya.

Hal serupa juga dikemukan warga lain, Monti (34). Menurutnya solusi tepat yang harus dilakukan pemerintah adalah menciptakan lapangan kerja yang disesuaikan dengan tingkat pendidikan dan keahlian warga.

"Kami sangat berterima kasih jika pemerintah bisa menyalurkan warga untuk dapat bekerja, meski hanya sebagai buruh dalam gedung di Kota Tegal." ujarnya. (Wawan Hudiyanto-17n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA