logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 13 Mei 2005 PANTURA
Line

Simpang Empat Langkap Lokasi Paling Tepat

  • Soal Calon Terminal Baru Bumiayu

BREBES - Pengadaan tanah untuk calon lokasi terminal baru Bumiayu, Brebes, tampaknya membutuhkan proses yang panjang. Selain penentuan lokasi terminal belum final, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) masih keberatan dengan harga tanah untuk calon lokasi yang cenderung terlampau mahal.

Sesuai dengan kajian konsultan teknis dari CV Nirmana Semarang yang bertugas mencari calon lokasi terminal baru, terdapat tiga alternatif lokasi yang diajukan ke Pemkab Brebes.

Pertama, memperluas lokasi terminal lama di Desa Pagojengan, Kecamatan Paguyangan. Kedua, di barat simpang empat Langkap, Dukuh Blere Desa Adisana, Bumiayu. Kemudian yang terakhir, di kawasan terpadu Stasiun Kereta Api (KA) Bumiayu, di Dukuh Talok Desa Dukuhturi.

"Dari tiga calon lokasi yang dikaji konsultan teknik itu, kami justru melihat lokasi di simpang empat Langkap paling tepat untuk dijadikan calon lokasi Terminal Bus Bumiayu yang baru," kata YMT Kepala Dinas Perhubungan Suprapto SH, kemarin (12/5).

Dia bersama Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Ir H Iskandar SH MM, Rabu lalu (11/5) melakukan kajian ulang atas tiga lokasi yang diajukan konsultan. Selanjutnya, kajian itu akan dilaporkan kepada Bupati untuk dijadikan pertimbangan dalam pengambilan keputusan.

Dari hasil kajian di lapangan, Suprapto mengakui lokasi yang paling tepat untuk calon terminal baru itu di barat simpang empat Langkap yang merupakan bagian dari jantung kota. Lokasi tersebut juga dianggap paling dekat menuju ke arah kota. Dari Kantor Polsek Bumiayu hanya sekitar 700 meter.

"Hasil kajian ini akan kita laporkan kepada Bupati supaya segera ditindaklanjuti dengan proses pengadaan tanah," paparnya didampingi Kasubdin Perhubungan Darat H Satibi.

Berkaitan dengan masalah harga tanah yang cenderung terlampau tinggi, meskipun dinasnya bukan pelaksana pengadaan tanah, Suprapto tetap berharap masyarakat ikut berpartisipasi dalam proses pembangunan terminal tersebut dengan memberikan harga yang wajar saat pelaksanaan ganti rugi. Sebab, perlu dimengerti, dana yang disediakan Pemkab dalam pengadaan tanah hanya Rp 1,5 miliar untuk lahan tiga hektare.

Rp 250.000/M2

Saat ini dari tawaran yang banyak dimunculkan masyarakat, harga tanah di sekitar jalur lingkar Bumiayu mencapai Rp 250.000/m2. Padahal pada proses ganti rugi jalan lingkar tahun 2000, harga tanah hanya Rp 18.000/m2.

Belakangan, setelah jadi jalan lingkar dengan aspal hotmix, harga melambung dari Rp 90.000 sampai Rp 200.000/m2. Melihat kondisi harga tersebut, hampir pasti dana Rp 1,5 miliar itu tidak cukup untuk membiayai pengadaan tanah tiga hektare.

Sementara itu, Kepala Bagian Pemerintahan Drs Kustoro MM mengatakan, dana Rp 1,5 miliar untuk pengadaan tanah sudah ada. Namun pembelian tanah calon terminal itu harus melalui tim sembilan yang diketuai Sekretaris Daerah (Sekda) Drs H Bambang Muryantono.

"Kami sebagai pelaksana teknis pengadaan tanah terminal menunggu hasil kajian dari dinas teknis yakni Dinas Perhubungan. Jika mereka sudah memastikan lokasi, baru tim sembilan yang akan melakukan negoisasi dengan pemilik tanah," ujarnya.

Kustoro mengatakan, sebelum tim sembilan turun, saat ini sedang dilakukan penjajakan oleh Camat Bumiayu menyangkut harga tanah. Hasil penjajakan tersebut akan dikaji lagi oleh tim, apakah layak atau tidak. Bahkan tim juga akan mempertimbangkan kemampuan dana yang tersedia. "Jika harga yang ditawarkan tinggi, tentu saja akan dibahas lebih lanjut," paparnya. (wh-17dn)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA