| Jumat, 13 Mei 2005 | PANTURA |
"Umar, Umar, Bubure Ana Racune"TERIAKAN keras Manis (42), bibi Umar Syarifudin (penjual bubur ayam keliling), banyak mengundang perhatian warga Desa Jembayat, Kecamatan Margasari, Kabupaten Tegal. Apalagi teriakan keras itu dilakukan sambil lari tergopoh-gopoh. "Umar, Umar. Mandek, mandek. Balik, balik. Bubure aja didoli. Ana racune. Bahaya." (Umar, Umar. Berhenti, berhenti. Pulang, pulang. Buburnya jangan dijual. Ada racunnya. Berbahaya-Red)," teriak Manis sambil berlari tergopoh-gopoh. Umar yang mendengar teriakan keras dari bibinya, langsung terkejut dan menghentikan laju gerobak dorongnya yang dijadikan sarana berjualan bubur ayam. Rupanya tidak hanya bibinya yang mengejar dia, sejumlah pemuda dari Dukuh Duren juga turut mengejarnya. Mereka kemudian mengajak Umar untuk pulang ke rumah dan minta agar tidak menjual bubur ayam yang siap dijual keliling desa. Dia juga sangat terkejut ketika diberitahu anak, istri, serta ibu kandungnya keracunan setelah makan bubur ayam. Kakek dan keponakan, serta sejumlah tetangga kiri-kanannya juga mengalami hal sama. "Ya, tanpa banyak alasan saya langsung mendorong gerobak bubur ayam pulang ke rumah. Istri saya ternyata sudah dilarikan ke Puskesmas Margasari. Jantung saya mau copot rasanya," kata Umar saat ditemui di ruang pemeriksaan Reskrim Polsek Margasari. Ratusan Orang Manis mengatakan, dia berlari sekuat tenaga mengejar keponakannya yang tengah berjualan agar tidak jatuh korban lagi. Dia takut jika hal itu tidak dilakukan akan banyak jatuh korban keracunan yang jumlahnya bisa mencapai ratusan orang.Tidak lama kemudian, dia langsung menyusul ke puskesmas. Kapolsek Margasari Iptu Sapari kemudian meminta Umar untuk membawa gerobak dorong yang masih berisi bubur ayam ke Mapolsek. Umar juga dimintai keterangan soal kejadian tersebut. Menurut Kapolsek dan dokter Endang Maryana, makanan yang diduga beracun, diduga berasal dari kaldu ayam yang disimpan dalam botol. Keterangan yang dihimpun Polsek Margasari, kaldu itu mengandung campuran hitam berbentuk seperti butiran pasir. Butiran hitam seperti pasir itu, kata Iptu Sapari, ditemukan di wajan atau tempat penggorengan yang dijadikan wadah untuk memasak kaldu ayam. "Ini juga akan dibawa ke Laboratorium Polda Jateng untuk diperiksa," tandas dia. Dia mengatakan, pihaknya sangat memuji kecepatan masyarakat dalam memberikan laporan dan melakukan upaya pencegahan. Yakni, dengan langsung menghentikan Umar untuk menjual bubur ayam. Dia memperkirakan, jika langkah cepat itu tidak segera dilakukan, dipastikan akan banyak warga yang keracunan akibat membeli bubur ayam yang diduga mengandung racun. (Riyono Toepra-37) |