| Jumat, 13 Mei 2005 | OLAHRAGA |
Evaluasi PSIS di Putaran I (1)Lini Tengah Makin Kreatif Alirkan BolaPERMAINAN PSIS di Kompetisi Liga Djarum Indonesia 2005 tidak lagi membosankan. Serangan dengan mengandalkan umpan-umpan panjang yang monoton, dari lini belakang langsung ke lini depan, seperti yang terlihat pada kompetisi mu-sim lalu, sudah tak mendominasi. Kali ini, Pelatih Bambang Nurdiansyah mengubahnya dengan permainan yang lebih atraktif dan kreatif. Hasil polesan mantan striker tim nasional itu pun membuat aksi-aksi Indriyanto Nugroho dan kawan-kawan enak disimak dan menghibur. Layaknya sebuah orkestra, para pemain mampu menciptakan harmoni antara irama dan gerak. Semua lini tampak hidup dan padu memainkan si kulit bundar dari kaki ke kaki. Lini belakang sebagai palang pintu pertahanan, sulit ditembus. Dari 13 pertandingan, lini belakang yang dika-wal Fofee Kamara, Idrus Gunawan dan Maman Abdurahman hanya kecolongan 10 gol. Sedangkan lini tengah makin kreatif dalam mengalirkan bola ke lini depan. Bukan itu saja, insting gol yang tajam juga dimiliki para pemain tengah. Dari gol-gol yang dihasilkan, tidak sedikit yang diciptakan gelandangnya. Esaiah Pello Benson menyumbang 3 gol, Harri Salisburi 2 gol, M Ridwan, M Irfan dan Djibril masing-masing 1 gol. Ketajaman dan produktivitas para pemain depan pun tidak disangsikan lagi. Kerja sama yang solid dan padu antara Indriyanto, Emmanuel de Porras atau Khusnul Yaqien menjadi momok bagi lini belakang lawan. Mereka bermain dengan penuh kegembiraan sehingga memunculkan momen-momen gol yang menggembirakan para pendukungnya. Indriyanto mengemas 5 gol, Porras dan Khusnul masing-masing 4 gol. "Karakter permainan kami memang cepat. Meski demikian, harus berpola dan tidak boleh terburu-buru. Jadi, melalui perencanaan yang matang saat menyerang," ujar Bambang. Mengejutkan Permainan skuad Mahesa Jenar yang menjanjikan itu sudah terlihat di turnamen Piala Emas Bang Yos II, Februari lalu di Jakarta. Secara mengejutkan, PSIS menjungkalkan runner-up KLI X, PSM Makassar 4-1. Namun, di pertandingan kedua, dipaksa imbang 1-1 oleh Persija Jakarta dan akhirnya harus kalah tipis dari Geylang FC Singapura 0-1. Di turnamen tersebut, Bambang tidak lagi menerapkan pola bermain 3-5-2, tapi 3-4-3. Pola tersebut terus digunakan Indriyanto Nugroho cs. di petandingan Kompetisi Liga Djarum Indonesia 2005, baik kandang maupun tandang. Untuk mendukung pola tersebut, semula komposisi yang sering dipakai di awal kompetisi adalah I Komang Putra (Kiper), Fofee Kamara (libero), Maman Abdurahman dan Modestus Setiawan (stoper), Esaiah P Benson (Gelandang bertahan), Abdoulaye Djibril (gelandang serang), Harri Salisburi dan May Rahman (sayap), Anthony Jomah Ballah, Indriyanto Nugroho, Emmanuel de Porras (striker). Dengan komposisi seperti itu, diakui serangan-serangan PSIS menjadi sangat bertaji. Sayang, itu malah menjadi bumerang bagi lini pertahanan. Bagaimana tidak? Jika sudah asyik menyerang, para gelandang lupa membantu pertahanan. Akibatnya, lawan mudah menerobos pertahanan yang keropos sehingga membahayakan gawang I Komang Putra. Gol-gol yang terjadi saat kalah 1-2 dari Persija Jakarta Pusat dan 0-1 dari Arema Malang, bukti dari lemahnya lini pertahanan di awal kompetisi. (Budi Winarto-22) |