| Jumat, 13 Mei 2005 | NASIONAL |
Kasus Lumpuh Layuh Masuk SurabayaSURABAYA - Setelah menyerang beberapa warga Kabupaten Lamongan dan Trenggalek, penyakit lumpuh layuh mulai masuk Kota Surabaya. Tiga anak sudah terserang penyakit ini dan di antara korban ada yang meninggal dunia. Ketiganya adalah Lisa Fabilo (2) warga Jalan Lebak II/28, Fadila (9) warga Jalan Banyuurip Lor I/24, dan Yoga warga Jalan Granting Baru 31 Surabaya. Dari ketiga korban tersebut, Yoga telah meninggal dunia 25 Februari lalu. Penyakit lumpuh layuh atau lebih dikenal dengan istilah penyakit Acute Flaccid Paralysis (AFP) menyerang organ tubuh korban seperti layaknya penyakit polio. Hanya saja virus polio lebih ganas dibanding virus AFP. ''Dua anak yang terserang lumpuh layuh kini dalam pengawasan petugas Dinas Kesehatan Kota Surabaya. Kita menilai ini sebagai kejadian luar biasa,'' kata Kepala Subdin Kesehatan Kota Surabaya Slamet Santoso di Surabaya, kemarin. Terhadap dua pasien tersebut, pihak Dinas Kesehatan memantau secara kontinyu dengan melakukan pengetesan darah dan unsur lainnya dari tubuh korban untuk memastikan apakah mereka terkena virus polio atau bukan. Untuk korban Yoga meninggal dunia karena penyakit lumpuh layuh yang diidap komplikasi dengan jenis penyakit lainnya. ''Kematiannya bukan murni lumpuh layuh, melainkan karena komplikasi penyakit lain. Namun, memang dia terkena penyakit tersebut,'' ujarnya. Kini, 53 puskesmas dan 27 rumah sakit di Surabaya disiapkan untuk mengantisipasi penyakit ini. Setiap kali menemukan pasien lumpuh layuh baru harus segera dilaporkan ke Dinas Kesehatan Kota (DKK), agar memudahkan penanganan dan pemantauan. Berdasarkan data di Dinkes Kota Surabaya, jumlah korban lumpuh layuh tahun 2002 sebanyak 19 orang, tahun 2003 sebanyak 12 orang, dan tahun 2004 sebanyak 13 orang. Di Tingkat Jatim Sementara itu, berdasarkan data di Dinas Kesehatan Jatim, terdapat sekitar 45 orang yang menderita penyakit mirip polio. "Keresahan yang terjadi di masyarakat atas penyakit kelumpuhan secara mendadak (polio) yang ditemukan di Sukabumi sangat beralasan. Kasus polio di Jatim hingga kini belum ditemukan, namun penyakit yang menyebabkan kelumpuhan diakibatkan oleh virus AFP," kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jatim dokter Bambang Giatno di Surabaya. Virus tersebut mengakibatkan kelumpuhan layu pada penderita. Menurut data yang dihimpun hingga kemarin, jumlah penderita AFP di seluruh Jatim diperkirakan sebanyak 45 orang. Empat penderita di antaranya berada di Kabupaten Lamongan. Selain itu, penderita lainnya ada di Kabupaten Trenggalek. Untuk empat penderita AFP di Kabupaten Lamongan berada di 4 kecamatan berbeda, yakni Kecamatan Deket, Kecamatan Glagah, Kecamatan Turi, dan Kecamatan Laren. Bambang Giatno menyatakan, yang harus diwaspadai sekarang adalah masuknya bayi dari luar Jatim yang ke provinsi ini. Bayi itu dikhawatirkan membawa virus polio, seperti yang terjadi di Kabupaten Sukabumi, Jabar. Dia mengemukakan, 90% bayi yang lahir di Jatim telah diimunisasi mulai imunisasi P1 hingga P4. "Masuknya bayi dari luar Jatim ke sini itu yang mesti kita perhatikan." Bambang Giatno yakini, kemungkinan kecil virus polio menyerang Jatim karena sejak lama Pemprov setempat menerapkan kebijakan imunisasi polio kepada semua bayi, yang lahir dengan bantuan bidan, bayi di bawah penanganan dokter, dan rumah sakit di seluruh Jatim. Setiap ada kelahiran langsung diberi imunisasi polio. Tujuannya agar bayi tersebut terhindar polio. "Yang patut diwaspadai ada migrasi bayi dari luar Jatim. Kemungkinan membawa virus sangat besar. Karena itu kewaspadaan tetap diperlukan." (G14-46v) |