| Jumat, 13 Mei 2005 | SEMARANG |
Rumah Warga Sering Kebanjiran
SEMARANG - Warga Jl Jalatunda III RT 2 RW 2 Kelurahan Sambirejo Kecamatan Gayamsari mengeluhkan banjir lokal yang sering menggenangi lingkungan mereka, akibat pembangunan kompleks Masjid Agung Jawa Tengah. Keadaan itu terjadi karena saluran air mereka terhambat oleh proyek penataan pelataran masjid tersebut. ''Hujan sebentar saja, lingkungan di sini sudah tergenang air. Padahal dulu sebelum ada Masjid Agung, kampung ini tidak pernah kebanjiran,'' ujar Wiyono (55), seorang warga. Saat terjadi banjir, ketinggian air bisa mencapai 50 cm. Akibatnya, rumah-rumah warga jadi terendam. ''Kami pasrah saja melihat barang-barang hanyut,'' ujar Karmi (60), warga RT 2 Sambirejo itu. Beberapa warga yang ditemui Suara Merdeka di lokasi mengaku tidak sempat menyelamatkan kursi, kasur, dan sebagainya karena air datang secara tiba-tiba. ''Jemuran saya saja sampai sekarang belum kering,'' imbuh Supani (45) yang terlihat sedang menjemur bantal dan guling di depan rumahnya. Kondisi tersebut tentu saja membuat mereka jengkel. Karena itu, saat banjir kembali terjadi, Sabtu (7/5) lalu, warga nekat membobol sumbatan yang terdapat pada saluran air di dalam kompleks masjid kebanggaan masyarakat Jateng tersebut. ''Kalau tidak dibobol, air tidak akan surut,'' kata Ny Marsudi, istri Ketua RT 2. Menurut dia, dulu saluran air di wilayah itu mengalir lancar melalui gorong-gorong. Sekarang setelah halaman masjid ditata, salurannya jadi tersumbat. ''Tidak hanya kami yang kena, warga RT 1 dan RT 3 yang berada di sebelah tenggara bangunan utama Masjid Agung Jateng juga sering kebanjiran,'' imbuhnya. Penutupan Jalan Selain masalah banjir, warga juga mempersoalkan penutupan jalan di kampung mereka, yakni Jl Jalatunda III. Sebab, penutupan jalan tersebut membuat akses warga menuju Jl Gajah terhambat. ''Banyak anak sekolah yang biasa lewat jalan ini, tapi sekarang mereka harus berjalan memutar,'' kata Wiyono. Hal senada juga diungkapkan Karmi, Supami, dan Ny Marsudi. Penutupan dan pengeprasan Jl Jolotundo III dilakukan tanpa meminta pertimbangan warga. Padahal menurut Wiyono, pihak Masjid Agung tidak pernah memberi ganti rugi kepada warga atas pengeprasan jalan tersebut. ''Kami sudah menanyakan hal ini kepada Pak RW dan Pak Lurah. Mereka mengaku tidak pernah tahu atau menerima ganti rugi Jl Jalatunda III yang dikepras untuk Masjid Agung,'' jelasnya. Sekitar tiga minggu lalu, warga mengirimkan surat permohonan atas pembukaan kembali Jl Jalatunda III. Tembusannya mereka kirimkan kepada Ketua RW 2, Lurah Sambirejo, Camat Gayamsari, dan Penjabat Wali Kota. (H6,nrs-50dn) |