logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 13 Mei 2005 SEMARANG
Line

Problema Rob yang Tak Pernah Tuntas (2)

Pompa Hanya ibarat Obat Sakit Kepala

PERSOALAN rob di Kota Semarang, memang bukan hanya dihadapi warga di Tanah Mas, Bandarharjo, dan Jl KH Agus Salim saja, tetapi juga seluruh wilayah yang berdekatan dengan pantai. Pemkot sebenarnya juga tidak tinggal diam.

Untuk mengatasi persoalan rob dan banjir, Pemkot kemudian membagi penanganannya dalam belasan sub sistem. Sebanyak 10 di antaranya, berada di kota bagian bawah antara Banjirkanal Barat dan Banjirkanal Timur.

Sub sistem itu, antara lain sub sistem Bulu, Tanah Mas, Kali Asin, Bandarharjo Barat, Bandarharjo Timur, Kota Lama, Banger bagian utara, Banger bagian selatan, Tugu Muda, dan Simpanglima.

Beberapa di antaranya, seperti di kawasan kota lama telah dilengkapi dengan pompa dan kolam retensi. Sementara di wilayah lain, hanya berupa pompa-pompa saja.

Kasubdin Pengairan DPU Kota Semarang Ir Prasetyo Kentjana Dipl HE, Kamis (12/5) mengemukakan, saat ini di Kota Semarang sudah terpasang 53 pompa.

Dari jumlah itu, yang terbaru adalah 6 pompa di sekitar Kali Semarang. Yakni 1 pompa di Johar, 1 di samping gedung bekas Shopping Center Johar, 2 di sebelah Gedung Keuangan Negara dan 2 lainnya di ujung jembatan Berok.

Pompa-pompa lainnya ada di saluran Bulu, Kali Baru, Jl Barito, Kali Banger, kampung Kandang Kebo di dekat Masjid Agung, dan berbagai tempat lainnya.

"Sebagian pompa pengendali rob dan banjir di Kota Semarang dikelola warga," kata dia.

Dia pun kemudian menjelaskan bahwa ada pompa yang dibangun dan dikelola Pemkot, namun ada pula pompa yang dibangun Pemkot namun pengelolaannya oleh warga. Selain itu ada pula pompa yang dipasang dan dikelola oleh warga.

Dia menyebutkan, pompa yang dikelola warga ada di Kelurahan Kuningan dan di permukiman Tanah Mas.

Dari banyak pompa yang ada dan dikelola warga, beberapa di antaranya memang bermasalah. Mohamad Rondi (33) pedagang nasi di dekat rumah pompa Jl Kali Mas Barat menyebutkan di lokasi tersebut ada 4 pompa. Dari jumlah itu hanya 2 yang bisa berfungsi.

Sementara di Jl Tanjung Mas Raya, Suara Merdeka melihat beton pondasi rumah pompa mengalami kebocoran. Bagian itu sedang diperbaiki oleh warga.

Lurah Panggung Lor Ali Muhtar SSos, saat ditanya tentang persoalan tersebut mengatakan saat ini di Tanah Mas terdapat 10 rumah pompa, yang masing-masing terdiri dari 2 sampai 3 pompa. Rata-rata pengeluaran untuk operasional rumah-rumah pompa itu sekitar Rp 15 juta per bulan.

Dia mengakui ada beberapa pompa yang rusak, dan warga tidak sanggup untuk memperbaiki. Hanya saja dia menyatakan tidak tahu persis pompa-pompa yang rusak.

Menanggapi persoalan semacam itu, Kasubdin Pengairan DPU Kota Semarang Ir Prasetyo Kentjana Dipl HE mengakui adanya kendala operasional pada pompa-pompa yang dikelola warga. Problem tersebut biasanya terkait dengan dana minim, sementara kebutuhannya lebih besar.

Problem semacam itu, sebenarnya bukan hanya dihadapi oleh warga, tetapi juga Pemkot. Untuk operasional pompa di Kota semarang saja, setiap tahun DPU hanya mendapat dana Rp 500 juta, sementara dana yang dibutuhkan jauh lebih besar.

Tentang efektifitas pompa, untuk jangka pendek memang efektif mengatasi banjir dan rob. Namun diakuinya, untuk jangka panjang, cara semacam itu ternyata belum tentu efektif. Pompa dan pintu air saat ini ibarat obat sakit kepala yang hanya mengobati gejala tetapi tidak menyembuhkan penyakitnya.

Maka menurut dia, Kota Semarang memang membutuhkan kajian primer tentang rob. Selain itu diperlukan penanganan menyeluruh, termasuk menyangkut semua saluran.

"Kami memang harus mengacu pada konsep penanganan satu sungai, satu rencana, dan satu manajemen," jelasnya. (Fahmi Zulkarnain M, Purwoko Adi Seno-50)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA