logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 13 Mei 2005 EKONOMI
Line

Pemupukan Keliru, Produktivitas Merosot

SEMARANG-Kemerosotan produktivitas tanaman padi lebih disebabkan sistem pemupukan yang keliru dan dilakukan dalam waktu panjang oleh petani. Pengelolaan pertanian dengan cara-cara konvensional semacam itu sudah saatnya diubah.

''Kini waktunya petani menerapkan teknologi pemupukan berimbang agar tercapai produksi pangan yang maksimal,'' ujar Ketua Presidium Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia (APPI) Dadang Heru Kodri, kemarin.

Ia mengemukakan hal itu dalam lokakarya terbatas bertema ''Meningkatkan Daya Saing Produksi Padi/Tanaman Pangan melalui Pemupukan Berimbang'' di aula Dinas Pertanian Jateng.

Dadang yang juga Direktur Utama PT Pupuk Sriwijaya (Persero) itu mengungkapkan sistem pemupukan berimbang harus menggunakan pupuk dengan unsur hara N, P, dan K yang cukup sesuai dengan kebutuhan tanah.

Produsen pupuk anggota APPI, lanjut dia, telah beberapa kali mengadakan demonstrasi plot (demplot) yang diikuti oleh para petani dan kelompok tani di Jateng serta Sumsel. Dari demplot itu terbukti produksi padi bisa meningkat 10% sampai 15% per ha.

Hal itu, kata dia, membuktikan melalui pengelolaan tanaman, serta pemupukan atau pemberian hara yang seimbang sesuai dengan kebutuhan spesifik lokasi dapat meningkatkan produktivitas dan mutu tanaman. Kenyataan tersebut penting disebarluaskan kepada seluruh petani di Tanah Air untuk meningkatkan daya saing produksi.

Kendala Kebijakan

Sayang, untuk menyosialisasikan teknologi pemupukan berimbang tadi BUMN produsen pupuk masih diadang berbagai kendala. Salah satunya adalah kebijakan pemerintah soal gas bumi yang kurang mendukung eksistensi industri pupuk dalam negeri.

''Kemunculan kebijakan tadi membuat industri pupuk dalam negeri sulit berkembang, apalagi bersaing di pasar internasional,'' tandasnya.

Menurut Dadang, di Indonesia saat ini ada 6 produsen/BUMN pupuk yang memiliki 13 unit pabrik urea. Dalam kondisi normal pabrik-pabrik itu mampu menghasilkan 8 juta ton pupuk/tahun. Jumlah itu bisa mencukupi kebutuhan dalam negeri, bahkan surplus produksinya dapat mengisi pasar ekspor.

Kebutuhan riil pupuk petani untuk sektor pertanian, kata dia, sekarang berkisar 5 juta ton/tahun dan nonpangan sekitar 870 ribu ton/tahun. Kebutuhan pupuk NPK sekitar 194 ribu ton/tahun, SP-36 834 ribu ton/tahun, dan ZA 672 ribu ton/tahun.

Untuk mengantisipasi permintaan pupuk di Indonesia ke depan, ujar dia, pihak pabrik mulai saat ini telah melaksanakan pengembangan industri pupuk urea dan NPK.

Mengenai Lembaga Pupuk Indonesia (LPI) yang didirikan oleh 6 produsen pupuk yang tergabung dalam APPI, Dadang menjelaskan dengan segala keterbatasannya lembaga itu telah ikut aktif melakukan sosialisasi penerapan teknologi pemupukan berimbang. Antara lain di Jabar, Jateng, Sumsel, Lampung, Sulsel, dan Kalsel.

Secara berkala LPI bekerja sama dengan Balai Penelitian Tanah juga mengadakan Pelatihan Pemupukan Berimbang dan Pengenalan Perangkat Uji Tanah Praktis. Kegiatan itu melibatkan Dinas Pertanian, petugas penyuluh lapangan (PPL), dan anggota kelompok tani aktif. (G2-59,27)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA