logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 13 Mei 2005 EKONOMI
Line

Bandara A Yani Masih Rugi Rp 3,5 Miliar/Tahun

  • Pengelola Mendekati Break Even Poin

SEMARANG-Kendati telah berstatus internasional, Bandara A Yani belum mampu menutup biaya operasional yang tinggi. Setiap tahun biaya yang harus ditanggung mencapai Rp 20 miliar, sedangkan pendapatannya hanya sekitar Rp 16,5 miliar sehingga rugi Rp 3,5 miliar/tahun.

Hal itu terungkap saat Purnomo, Kepala PT Angkasa Pura I Cabang Bandara A Yani memaparkan kondisi bandara tersebut di Vina House Jalan Diponegoro Semarang, kemarin.

Dia menjadi pembicara dalam diskusi terbatas bertema ''Prospek Bandara Internasional A Yani'' bersama mantan Direktur Utama Garuda Suparno, Ketua Kompartemen Investasi Kadin Jateng Didik Suksmono, dan dimoderatori oleh Wapemred Suara Merdeka Sasongko Tedjo.

Dalam acara yang dibuka oleh Gubernur H Mardiyanto itu Purnomo mengemukakan meski rugi, kondisi keuangan perusahaan pengelola bandara itu sekarang dalam posisi mengarah mendekati break even poin atau balik modal.

Dia mencontohkan biaya operasional yang tinggi itu terlihat pada pemeliharaan landasan yang mencapai Rp 12 miliar.

''Sebagaimana jalan raya, tiap tahun landasan harus dilapisi dengan bahan tertentu supaya kondisinya kembali baru. Belum lagi alat-alat navigasi yang harus berstandar internasional. Padahal biayanya sangat besar,'' ujarnya.

Menurut dia, hingga kini pengunjung di Bandara A Yani belum mencapai 1 juta/tahun dengan asumsi lalu lintas penumpang per hari sekitar 2.000 orang.

Jumlah itu, lanjut dia, belum sebanding dengan penumpang di bandara kelolaan PT Angkasa Pura I yang sudah untung. Bandara Hasanudin Makassar, misalnya, menyerap 2 juta pengunjung/tahun.

Cabang PT Angkasa Pura I lainnya yang saat ini untung adalah Bandara Ngurah Rai Denpasar sekitar Rp 200 miliar/tahun dan Juanda Surabaya Rp 100 miliar/tahun.

Bandara yang mulai untung Sepinggan Balikpapan dan Adi Sutjipto Yogyakarta yang pengunjungnya sekitar 1,5 juta/tahun.

Empat bandara yang balik modal atau mendekati meliputi A Yani Semarang, Selaparang Mataram, Syamsudin Noor Banjarmasin, dan Sam Ratulangi Manado.

''Empat yang masih rugi adalah Bandara Adisumarmo Solo, serta bandara di Biak, Kupang, dan Ambon,'' tambah Purnomo.

Pembenahan

Sementara itu pembenahan Bandara A Yani terus dilakukan. Gubernur H Mardiyanto mengungkapkan tahun ini perpanjangan landasan dari 2.250 m menjadi 2.850 m selesai. Sebelumnya landasan itu hanya 1.850 m.

Alokasi anggaran untuk pembenahan tersebut, lanjut dia, semua diperkirakan Rp 86,5 miliar yang diperoleh dari APBD Rp 57 miliar dan APBN 29,5 miliar.

Mei ini proses perpanjangan landasan sekitar 400 m yang memakan biaya Rp 21 miliar mulai dilakukan. (rei-27)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA