logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 13 Mei 2005 EKONOMI
Line

A N A L I S I S

Menguji Kepercayaan terhadap Rupiah

LANGKAH Bank Indonesia (BI) untuk tetap pada jalur kebijakan bunga tinggi pada tahun-tahun awal krisis ekonomi, yakni 1997 dan 1998, telah membawa kembali ekonomi Indonesia mengarah pada jalur yang benar.

Harus diakui, kebijakan bunga tinggi pada 1998 dengan suku bunga antarbank rata-rata 64% telah mengembalikan kepercayaan terhadap rupiah yang pada pertengahan tahun itu mencapai Rp 14.900/dolar AS menjadi rata-rata Rp 8.000/dolar AS pada akhir tahun.

Keyakinan BI pada pilihan kebijakan moneter yang ditempuh itu pula yang menjadi salah satu pilar inflasi kembali pada jalur inflasi rendah pada saat ini. Inflasi itu pula selain kurs yang menjadi tugas inti bank sentral.

Pengalaman selama lima tahun sejak 1998 itu tampak telah memberikan keyakinan BI atas kepercayaan masyarakat pada sendi-sendi dasar ekonomi makro sehingga baik inflasi maupun kurs rupiah masih berada kisaran jalur paritasnya.

Tetapi keyakinan yang begitu tinggi pulalah yang kelihatan hampir menjadikan rupiah menggeliat mendekati batas kritis Rp 10.000/dolar AS pada pekan terakhir April lalu.

Kepanikan melanda pasar valas Indonesia, khususnya dalam pekan-pekan terakhir April dan awal Mei. Posisi rupiah terhadap dolar AS menembus angka Rp 9.800. Adakah yang mengkhawatirkan fundamental ekonomi kita sehingga pasar valas panik?

Indikasi rupiah akan melemah terhadap dolar AS sebenarnya sudah dapat diperkirakan sejak Maret lalu, yakni ketika The Fed atau bank sentral AS meningkatkan suku bunga utamanya (Fed Fund Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 2,75 % pada 22 Maret, setelah 2 Februari juga menaikkan 25 basis poin menjadi 2,50%.

Terakhir The Fed menaikkan suku bunganya pada 3 Mei lalu, juga sebesar 25 basis poin sehingga menjadi 3%. Sementara itu BI tampak dari April hingga pekan pertama Mei masih mempertahankan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) 1 bulannya pada tingkat 7,53% sebelum dinaikkan lagi menjadi 7,81 % pada 4 Mei dari sebelumnya 7,70%.

Adakah yang salah dalam strategi BI sehingga rupiah melemah cukup besar? Hampir semua indikator ekonomi makro kita saat ini berada di tingkat yang tidak buruk, kecuali inflasi.

Kita perhatikan beberapa indikator makro dan sectkr riil berikut. Pertumbuhan ekonomi tahun 2004 mencapai 5,13% atau lebih tinggi dari target pertumbuhan yang ditetapkan sebelumnya sebesar 4,8%. Seluruh lapangan usaha pada 2004 juga mengalami ekspansi, kecuali sektor penggalian dan produksi, dengan rekor ekspansi terbesar sebesar 12,7% terjadi di sektor pengangkutan dan komunikasi.

Sementara itu di sisi permintaan ekspansi terbesar terjadi di komponen impor sebesar 24,95% dan investasi 15,71%. Kinerja indikator ekonomi makro yang cukup baik itulah yang tampak menjadikan BI cukup percaya diri tidak menaikkan suku bunga mengantisipasi perkembangan suku bunga The Fed.

Atau BI memang sengaja melakukan test case atas kepercayaan publik terhadap perekonomian nasional dengan sengaja menunda antisipasinya atas perubahan suku bunga di AS.

Kepercayaan BI yang tinggi tersebut tampak pada pernyataan Gubernur BI pertengahan April yang tidak akan menaikkan lagi suku bunga SBI.

Kalau hipotesis itu benar, maka sungguh sangat mahal kemungkinan harga yang harus dibayar, karena apabila rupiah sampai melampaui Rp 10.000/dolar AS maka akan susah payah untuk mengembalikan kepercayaan yang sudah tercipta cukup baik. Semoga hipotesis itu salah.

Kredibel

Saat ini BI masih cukup kredibel untuk menjaga kepercayaan terhadap rupiah yang tampak pada rupiah yang mulai menguat setelah ada intervensi terhadap pasar valas.

Namun hal itu pun dibantu oleh upaya nonpasar dengan meminta Pertamina melaporkan transaksinya dalam menggunakan valas. Apa makna semua itu?

Sampai saat ini kurs rupiah terhadap dolar AS dan tingkat inflasi masih tetap merupakan variabel kunci sangat strategis dalam menjaga stabilitas makro ekonomi Indonesia.

Posisi strategis itu terkait dengan masih cukup tinggi komponen impor dalam industri manufaktur, sehingga setiap goncangan terhadap rupiah akan berakibat pada kegoyahan harga-harga produk manufaktur yang ujung-ujungnya juga dapat meningkatkan laju inflasi.

Karena itu, setiap ancaman yang muncul dan mungkin memengaruhi kurs rupiah harus selalu mendapat antisipasi cepat agar tidak goncang. Hal itu berarti selain perubahan fundamental ekonomi domestik, antisipasi terhadap perubahan fundamental ekonomi internasional khususnya AS, harus mendapat perhatian dan antisipasi secara cepat sebelum terlambat.

Hasil riset BI Semarang bekerja sama dengan Laboratorium Studi Kebijakan Ekonomi (LSKE) Fakultas Ekonomi Undip mengenai sebab-sebab inflasi di Jateng menunjukkan setiap perubahan kurs rupiah terhadap dolar AS akan mendorong kenaikan inflasi pada bulan-bulan berikutnya, khususnya pada bulan pertama dan kedua setelah perubahan kurs tersebut.

Temuan riset itu memperkuat tesis setiap perubahan variabel yang memengaruhi kurs rupiah terhadap dolar AS harus selalu mendapat antisipasi segera agar tidak menimbulkan goncangan berkepanjangan.

Sehubungan dengan fenomena rupiah yang melemah akhir-akhir ini, di samping variabel kenaikan suku bunga di AS yang bagi The Fed menjadi instrumen moneter utama untuk mengatur ekonomi, tingkat inflasi domestik yang cukup tinggi pada Maret sebagai faktor internal serta kecenderungan tingkat inflasi AS yang stabil dan tidak mengalami kenaikan harus mendapat perhatian otoritas moneter Indonesia.

Peningkatan selisih tingkat inflasi antara Indonesia dan AS pada Maret harusnya sudah merupakan sinyal rupiah akan melemah terhadap dolar AS, sehingga harus sudah diantisipasi pada April lalu.

Sementara itu peningkatan suku bunga Fed Fund Rate dan tentu juga Prime Rate serta tingkat inflasi rendah berarti akan meningkatkan tingkat bunga riil dalam dolar AS. Dalam hal ini pun BI sudah mengetahui secara baik.

Persoalannya adalah terkait dengan timing antisipasi tersebut yang harus cermat diperhatikan. Ketidaktepatan dalam mengambil posisi dan waktu antisipasi bias akan berpengaruh besar terhadap perekonomian nasional.

Bagaimana pada bulan-bulan mendatang? Kondisi eksternal, khususnya di AS, pada kuartal kedua nanti diperkirakan tidak mengalami pertumbuhan berarti, yakni 11.951 miliar dolar AS (Mei), 11.956 miliar dolar AS (Juni), Indeks Harga Konsumen Mei diperkirakan 189,8 dan Juni 189,4, sedangkan Prime Interest Rate Mei 5,75% dan Juni 6%.

Gambaran itu menunjukkan ada perkiraan perubahan indikator ekonomi AS yang tidak signifikan, kecuali untuk tingkat bunga. Karena itu, yang perlu diantisispasi Indonesia adalah menjaga agar dolar AS tidak lagi merangkak naik.(27)

- Penulis adalah Ketua Laboratorium Studi Kebijakan Ekonomi (LSKE) dan dosen Fakultas Ekonomi Undip


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA