logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 13 Mei 2005 EKONOMI
Line

BRI Pastikan Pengadaan TI Sesuai Prosedur

JAKARTA- Direktur Utama (Dirut) Bank BRI Rudjito membantah adanya dugaan penyimpangan dalam pengadaan sistem teknologi informasi (TI) yang disebut-sebut mencapai Rp 1,2 triliun. Dia bahkan berani menjamin dari segi harga maupun kualitas, investasi TI di banknya lebih baik dari bank lain di Indonesia.

Penegasan Rudjito tersebut terkait dengan penilaian Meneg BUMN, Sugiharto, bahwa pengadaan TI untuk empat bank BUMN yang mencapai 400 juta dolar tidak masuk akal. Karenanya Meneg BUMN menyerahkan masalah tersebut kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk diperiksa.

Kepada wartawan di Jakarta, Kamis (12/5), Rudjito menjelaskan, sebelum BRI direkap tahun 1997 pemerintah telah menunjuk Deutsche Bank sebagai konsultan dibantu Andersen.

Saat itu Andersen menyarankan, jika BRI direkap TI-nya harus dibikin tersentral seperti bank di negara yang sudah maju. Software yang digunakan adalah Silverlic dan tandemnya hardware AS 200 yang bisa meng-icover sampai 30 ribu juta rekening.

Akhirnya, kata dia, manajemen lama mengajukan anggaran sebesar 100 juta dolar untuk pengembanan TI di 200 cabang.

Ketika dirinya masuk memimpin BRI tahun 2000, ternyata potensi BRI untuk meningkatkan pendapatan jauh lebih besar. Laba yang semula hanya ditargetkan Rp 11 miliar mampu bertumbuh hingga Rp 335 miliar. Jumlah kantor cabang pun makin berkembang.

''Karena itu Februari 2001 kami membuat rencana bisnis final sampai 2003. Laba 2001 yang semula ditargetkan 200 miliar ditingkatkan menjadi Rp 500 miliar, Laba 2002 semula Rp 500 miliar menjadi Rp 1 triliun, dan 2003 yang sebelumnya tidak ada ditetapkan Rp 1,5 triliun,'' jelasnya.

Rupanya target ini pun mampu terlampaui. Realisasi laba BRI selama tiga tahun tersebut masing-masing Rp 1,06 triliun, Rp 1,6 triliun dan Rp 2,7 triliun. Dengan adanya pertumbuhan laba tersebut dana untuk investasi juga menjadi lebih besar.

Rudjito mengatakan, sehubungan dengan rencana bisnis baru yang sudah disetujui pemerintah, manajemen BRI merancang investasi baru di bidang TI untuk membuat semua kantor cabang on-line dengan meng-up grade hardware.

Jika sebelumnya hardware (perangkat keras) yang ada hanya mampu menampung 10 juta rekening maka ditingkatkan untuk antisipasi ke depan sampai dengan 30 juta rekening. (A20-48,59)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA