| Kamis, 12 Mei 2005 | PANTURA |
Siswa SLTA Minta Pelajaran Agama DitambahKAJEN - Krisis moral akhir-akhir ini ternyata juga dirasakan oleh kalangan remaja dan pelajar di Kabupaten Pekalongan. Beberapa pelajar SLTA di Kota Santri bahkan meminta Bupati agar jam pelajaran agama di sekolah ditambah. Tuntutan tersebut mengemuka dalam dialog antara Bupati Drs H Amat Antono dan pelajar-pelajar SLTA se-Kabupaten Pekalongan, belum lama ini. Kemerosotan nilai moral, tandas mereka, sangat memprihatinkan. ''Saya ingin tahu apa langkah-langkah Bupati untuk mengatasi hal itu,'' ujar Indra (17), salah seorang siswa SMK I Kedungwuni. Fitri (17) dari SMA Kedungwuni juga menyampaikan keprihatinan tersebut. Dia mengusulkan kepada Bupati agar bisa menambah pelajar agama untuk meningkatkan kesadaran siswa. Jika jam pelajaran agama ditambah, lanjut dia, akan dapat menciptakan akhlak mulia dan taat pada norma yang melingkupi pergaulan para tunas bangsa. Selain menanyakan soal penambahan jam pelajaran agama, para pelajar juga menyoroti masalah sarana prasarana pendidikan. Kurnia (18) dari SMA Kesesi menekankan, dalam menunjang pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) serta keberhasilan mencapai batas standar kelulusan ujian akhir nasional (UAN) yang ditetapkan 4,2 maka ketersediaan sarana dan prasarana sangat penting. Menanggapi sergapan pernyataan tersebut, Bupati yang didampingi kepala instansi terkait, seperti Depag, BKD, dan Dewan Pendidikan mengatakan, dirinya memang punya keinginan menambah jam pelajaran agama pada sekolah negeri dan jam pelajaran umum serta keterampilan untuk pondok pesantren. Secara lebih tegas, Kepala Kantor Depag Drs H Masduki mengungkapkan, untuk mengatasi demoralisasi bisa dilakukan dengan menanamkan nilai-nilai keagamaan sebagai benteng diri. Nilai-nilai keagamaan tersebut terutama dalam pengamalan ibadah shalat secara baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari. Membenahi Menanggapi tentang tuntutan penyediaan sarana dan prasarana, Bupati mengakui adanya sekolah yang belum memadai. Namun, dia berjanji akan membenahi sedikit demi sedikit. ''Soal kenaikan standar kelulusan UAN dan penerapan KBK, janganlah dianggap sebagai ancaman tapi pahamilah itu sebagai tantangan,'' pintanya. Dialog di aula lantai 1 Setda itu, menurut keterangan ketua panitia Drs H Abdeol Chamied, merupakan rangkaian peringatan Hari Pendidikan. ''Acara yang diikuti 150 anak itu dimaksudkan untuk menumbuhkan motivasi belajar para siswa,'' ujarnya. (G16-52j) |