logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 12 Mei 2005 PANTURA
Line

Hasil Tangkapan Turun Nelayan Enggan Melaut

TEGAL- Ratusan nelayan asal Tegal sejak sepekan ini enggan melaut, karena turunnya hasil tangkapan ikan yang mereka peroleh. Menurut mereka, menurunnya hasil tangkapan disebabkan oleh adanya perubahan arah angin yang semula angin barat menjadi angin timur.

Kardi (46), salah seorang nelayan, mengaku perubahan arah angin itu sangat mengganggu pekerjaan mereka di laut. Padahal selama ini mereka sudah menggunakan alat tangkap ikan yang memadai, yakni dogol atau cantrang. Tetapi hasil tangkapan tetap tidak sesuai dengan biaya operasional melaut, dan menjadikan mereka untuk memilih tidak berangkat.

"Menghadapi masa sulit seperti ini, teman-teman memilih tidak melaut. Sebab kalau nekat melaut bisa dipastikan mereka akan mengalami kerugian. Biaya yang dikeluarkan untuk operasional melaut lebih tinggi bila dibandingkan dengan penghasilan yang diperoleh," ujar Kardi di TPI Tegalsari, kemarin.

Pada waktu musim mendukung untuk mencari ikan, sekali melaut paling tidak nelayan harus mengeluarkan biaya antara Rp 150.000-Rp 200.000. Biasanya mereka berangkat pada pagi dan pulang pukul 12.00, dengan penghasilan antara Rp 300.000-Rp 400.000.

Dari hasil tersebut mereka harus mengurangkan uang modal, sehingga penghasilan bersih antara Rp 100.000-Rp 200.000. Belum lagi biaya perawatan kapal dan alat tangkap untuk juragan mereka 40%, maka maksimal menerima Rp 60.000 dan Rp 120.000.

Yang dikeluhkan para nelayan selama musim paceklik ini, mereka menggantungkan biaya makan untuk keluarga dari utang ke warung. "Kalau satu hari istri saya utang di warung Rp 20.000, satu minggu sudah bisa ditebak berapa banyaknya," papar Untung, nelayan yang lain.

Ada Koperasi

Di lingkungan nelayan memang ada lembaga koperasi yang bisa dijadikan andalan menghadapi musim paceklik. Namun, sejauh ini hanya sebagian kecil yang memanfaatkan jasa koperasi.

Pertimbangan mereka, dengan pinjam di luar tidak banyak melalui prosedur berbelit-belit. Selain juga tidak perlu menggunakan jaminan atau agunan. "Ya kalau kita butuh, ada sih yang mau memberikan pinjaman. Tetapi kalau terus-menerus pinjam kita juga mikir bagaimana mengembalikannya?"

Hal serupa juga dikemukakan Suryoto (40). Menurut dia, dalam kondisi paceklik seperti sekarang banyak nelayan nyambi kerja lain. Misalnya, menjadi buruh kasar atau menjadi pembantu tukang batu.

Hal itu dilakukan agar dapur keluarga tetap mengepul. Adapun mereka yang punya famili pedagang warteg, biasanya berangkat ke Jakarta membantu berjualan.

Menanggapi keluhan nelayan, Kepala Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tegalsari Agus Budiono APi menyatakan memahami betul kesulitan para nelayan. Namun, pihaknya tidak bisa berbuat banyak. Sebab sudah menjadi hukum alam ketika ada perubahan musim, yang paling merasakan adalah nelayan.

Dia sudah melaporkan kondisi yang dialami para nelayan ke pemerintah kota. Kabarnya, pemerintah sedang merencanakan kebijakan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Mengenai bentuk kebijakan itu, dia belum tahu persis.(lei-42s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA