| Kamis, 12 Mei 2005 | WACANA |
Lahirkan Intelektual BebalOleh: Murtiningsih - Mahasiswi Program Ekstensi Teknik Kimia UndipMARAKNYA usaha biro jasa skripsi akhir-akhir ini tentu merupakan perkembangan yang mengkhawatirkan dalam dunia pendidikan. Kehadirannya bukan menjadi "penerang" dunia pendidikan yang kini sedang berada dalam kegelapan. Justru keberadaannya menjadikan kegelapan itu menjadi gulita berkepanjangan. Lihatlah betapa banyak mahasiswa yang menggantungkan "nasib akhir" kuliahnya pada biro jasa ini. Hanya dengan bermodalkan uang ratusan ribu hingga beberapa juta rupiah saja, mahasiswa bisa mendapatkan naskah skripsi. Peran mahasiswa hanya berkonsultasi kepada dosen, sedangkan semua peran teknis dijalankan oleh biro jasa tersebut. Tak pelak, berbagai tanggapan miring pun beredar. Biro jasa skripsi dianggap sebagai pembawa masalah baru di dunia pendidikan. Slogan yang sering diusung selalu merujuk pada penyelesaian masalah yang dihadapi mahasiswa, namun dalarn jangka panjang, penyelesaian masalah sesaat itu berubah menjadi penumpukan masalah yang menggunung di kemudian hari. Tidak mudah memang mencari siapa sebetulnya yang lebih dulu ada, biro jasa skripsi, atau mahasiswa yang sedang kesulitan membuat tugas akhir? Kondisi ini persis dengan kesulitan menentukan mana yang lebih dulu, ayam atau telur? Namun, yang jelas, keberadaan biro jasa skripsi ini bisa menjadi mala petaka pendidikan jika keberadaannya mematikan potensi akademik mahasiswa yang membutuhkan bantuannya. Sebetulnya, kehadiran biro jasa skripsi ini sah-sah saja sepanjang peran yang dimainkannya tidak dalam kapasitas mengambil alih tugas mahasiswa. Maksudnya, peran sebenarnya dari biro jasa skripsi hanya sebatas pemberian jasa konsultasi tambahan saja di samping mahasiswa telah memperoleh konsultasi dari dosen pembimbing. Tapi, praktik yang terlihat kini adalah betapa biro jasa skripsi telah menggantikan peran mahasiswa dalam pembuatan skripsi tersebut. Biro jasa skripsi telah menentukan pilihan-pilihan judul, proses pembuatan, penyediaan buku-buku referensi, hingga pembekalan kepada mahasiswa ketika menghadapi ujian. Inilah sebetulnya kekhawatiran yang muncul dengan kehadiran biro jasa skripsi. Tragisnya, tidak sedikit dosen di perguruan tinggi yang mempunyai usaha biro jasa skripsi ini. Hal ini sama saja merupakan upaya pembusukan pendidikan secara sistematis, karena adanya moralitas rendahan dari insan-insan akademis, sehingga lahirlah kolusi dalam pembuatan karya ilmiah mahasiswa. Moralitas rendah ini pada akhirnya akan berpengaruh pada kehidupan bermasyarakat. Kita akan menghadapi banyaknya intelektual-intelektual kopong, mentereng hanya sebatas embel-embel gelar di depan maupun di belakang namanya saja. Tidak heran, kini kita jumpai banyaknya bisnis jual beli gelar sebagai jawaban kegilaan masyarakat terhadap gelar akademis. Tentu saja bisnis biro jasa skripsi dengan bisnis jual beli gelar pada hakikatnya adalah sama. Keduanya sama-sama menjerumuskan masyarakat, mengelabuhi kesadaran umum dengan imbalan materi yang tidak seberapa besar. Yang mengherankan, mengapa fenomena ini masih tetap mempunyai konsumen sehingga kelangsungan hidup bisnis ini masih tetap berjalan. Inilah hukum permintaan dan penawaran dalam pendidikan. Penawaran jasa skripsi dan jual beli gelar tidak akan ada jika saja konsumen yang memintanya tidak ada. Begitu juga sebaliknya. Keduanya merupakan simbiosis mutualisme, sehingga keduanya sama-sama hidup dengan terjalinnya hubungan yang saling menguntungkan. Bebalisme Adanya sikap yang tidak menghormati dan melecehkan dunia pendidikan ini merupakan indikasi masyarakat telah terjangkiti penyakit bebalisme. Syed Hussein Alatas dalam buku Intelektual Masyarakat Berkembang menggambarkan betapa penyakit bebalisme ini diderita oleh berbagai lapisan masyarakat. Ia tidak hanya menyerang orang-orang tidak berpendidikan, namun juga bisa menjangkiti para menteri, anggota DPR, pejabat birokrasi dan sebagainya. Ciri khas dari orang yang bebal ini adalah bagaimana orang tidak menghargai ilmu pendidikan, termasuk segala sesuatu yang berkaitan dengannya, dan tidak mempunyai kehalusan budi pekerti. Bila dikaitkan dengan biro jasa skripsi, rnaka betapa terlihat gamblang sikap tidak menghormati ilmu pengetahuan tersebut. Kekuatan uang mengalahkan kekuatan tradisi akademik yang selalu menjunjung tinggi kejujuran, kebenaran dan sportivitas. Kekuatan uang dalam biro jasa skripsi tersebut juga semakin rneminggirkan peran proses dari suatu sistem pendidikan. Kepentingan hasil akhir menjadi lebih menarik dan berharga dari pada perjuangan dalam berproses. Tidaklah heran apabila kita kini menghadapi kemerosotan sarjana dengan berbagai strata pendidikannya. Banyak sarjana dengan strata pendidikan S2, bahkan S3 yang jauh dari kriteria berkualitas, hingga tingkat kepercayaan masyarakat terhadap dunia pendidikan mengalami degradasi yang mengkhawatirkan. Dalarn penyakit bebalisme, mereka masih tetap menggunakan kekuatan rasionalitas. Akan tetapi rasionalitas yang digunakan tidak mengembangkan rasionalitas substansial maupun fungsional. Rasionalitas substansial mengacu pada pikiran yang mengungkapkan wawasan yang cerdik atas situasi tertentu. Sedangkan rasionalitas fungsional mengacu pada serangkaian tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Biro jasa skripsi ini dengan sendirinya akan mematikan kernampuan mahasiswa dalam rnenggunakan dua kekuatan rasionalitas tersebut. Akibatnya, mahasiswa akan menjadi terbiasa hidup bergantung, enggan bekerja dan berusaha keras, tidak kreatif dan inovatif, dan lemah dalam mengembangkan kemampuan analisis. Mereka jarang sekali mau berpikir berat, maunya mencapai kesuksesan secara cepat (instan) dan rnemandang proses pendidikan tidak lebih hanya perputaran modal dalam niaga. Dominasi paradigma untung rugi selalu menjadi pijakan dalam bertindak. Karena itu, dalam pembuatan skripsi, cara berpikir mereka juga sederhana. Kalau dengan membayar uang yang tidak seberapa skripsi bisa didapat, mengapa harus repot-repot membuat sendiri? Toh masyarakat tidak begitu peduli, apakah salah syarat untuk memperoleh gelar kesarjanaan itu lahir dari karya sendiri atau dibuatkan orang lain? Inilah gambaran lingkaran setan praktik biro jasa skripsi yang kini beredar di masyarakat. Jika kita tidak peduli dengan kondisi ini, masa depan bangsa ini akan menjadi taruhannya. Sangat sulit memprediksi kemajuan bangsa ini bila kualitas para sarjana yang kita miliki lebih banyak yang berkualitas bebal? Mampukah bangsa ini menghadapi persaingan yang sangat ketat dengan bangsa lain? Sudah saatnya bagi kita untuk bersama-sama prihatin untuk selanjutnya menjauhi praktik bisnis yang semakin memerosokkan dunia pendidikan ke jurang kehancuran. (24) |