| Kamis, 12 Mei 2005 | WACANA |
tajuk rencanaPenegasan Gubernur tentang Pembelian Atlet- Para tokoh kunci olahraga Jawa Tengah, akhirnya mendengar secara langsung sikap Gubernur Mardiyanto terhadap pro-kontra pembelian atlet yang beberapa waktu lalu menjadi polemik. Intinya, tidak akan ada kebijakan pembelian atau transfer atlet dari daerah lain untuk kontingen PON Jateng di Kalimantan Timur 2008 mendatang! Forum untuk menjelaskan sikap itu, selain cukup representatif juga tepat dari sisi timing, momentum, dan tempat. Dari sisi timing dan momentum, gubernur menyampaikannya di depan para insan olahraga berprestasi yang menerima penghargaan dari Seksi Wartawan Olahraga (Siwo) PWI Jateng. Sedangkan dari sisi tempat, penegasan tersebut menjadi strategis karena itu memang forumnya para wartawan olahraga. - Disadari, sangatlah sensitif membicarakan pembelian atlet, di samping selalu memunculkan dilema. Polemik muncul justru ketika pengurus KONI periode 2005-2009 di bawah kepemimpinan Murdoko baru saja mulai bekerja. Sensitif dan dilematis, karena konteks pembelian atlet selalu dikaitkan dengan obsesi yang selama bertahun-tahun tidak pernah "nembus", yakni mengejar posisi tiga besar PON di bawah DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Di sini terkait pertanyaan-pertanyaan, apakah mungkin Jateng mengejar ketertinggalan peringkat jika tidak memberlakukan kebijakan radikal membeli atlet dari daerah lain yang berkepastian meraih medali emas? Tetapi pada saat yang bersamaan juga muncul pertanyaan lain, bagaimana dengan kesempatan bagi atlet produk kita sendiri? - Sensitivitas itu juga terkait dengan kesiapan anggaran. Lalu pekerjaan lain yang tidak kalah rumit adalah dengan kiat apa Jateng mempertahankan para peraih medali emas PON-nya yang tentu juga menerima iming-iming dari daerah lain? Mobilitas perpindahan atlet atas nama kepentingan kontingen PON selalu ditandai dengan "perang anggaran", dan itu jelas membutuhkan strategi "intelijen" yang rumit. Bagaimana mungkin suatu provinsi menjelaskan tentang besaran anggaran, karena hal itu pasti akan direspons daerah lain dengan meningkatkan dana belanja atletnya. Pekerjaan riil yang mestinya lebih diprioritaskan adalah menahan gempuran rayuan daerah lain agar kontingen dapat diproyeksikan tetap utuh. Jadi kiat kesetiaan macam apa yang mesti diketengahkan? - Dari sisi pembinaan, tepatlah kalau Gubernur Mardiyanto menekankan agar KONI lebih memprioritaskan menahan atlet-atlet yang berprospek bagus dengan memperkuat atensi bagi mereka. Yakni membina prestasi para atlet itu dengan benar, dan memperkuat infrastruktur pembinaan melalui keberadaan pelatih-pelatih berbobot. Kalau perlu pelatih asing. Bahkan peluang berlatih di luar negeri pun harus dibuka. Artinya, ada faktor mengedepankan etika, dengan tidak mengganggu daerah lain yang sudah susah-susah melakukan pembinaan. Sikap terhadap posisi tiga besar pun cukup realistis, dengan kesadaran memandang Jabar memiliki kultur olahraga yang masih lebih baik dibandingkan dengan Jateng. Untuk itu, banyak aspek pembelajaran yang harus diserap dari provinsi tersebut. - Kita melihat fenomena "profesionalisme" yang sejak dekade 1990-an mulai merayapi dunia amatir, khususnya dengan muara PON. Daerah-daerah menyikapi sukses di PON sebagai bagian dari sukses seorang kepala daerah, sehingga apa pun akan dilakukan untuk memperkuat kontingen mereka. Jor-joran bonus dan pola transfer, baik yang terang-terangan maupun terselubung menjadi warna. Dapat dipahami jika para atlet pun tergiur tawaran-tawaran yang menjanjikan itu, dengan mempertimbangkan golden age yang pendek dalam lintasan hidup mereka. Apalagi sejauh ini mereka telah mengorbankan masa-masa remaja untuk menekuni olahraga. Bias yang muncul adalah pembinaan dan prestasi yang seolah-olah menjadi instan, tetapi itulah konsekuensi dari fenomena itu. - Jadi yang dibutuhkan adalah perekat, yakni sejauh mana Pemprov Jateng bersama-sama KONI mengetengahkan daya tarik yang mampu menahan kemungkinan atlet untuk memilih hijrah ke daerah lain. Kalau solusinya adalah bonus prestasi, dan insentif-insentif selama masa persiapan, yang dilakukan daerah lain pun sama saja. Maka yang perlu dikonsep sebagai pilihan tentulah menciptakan iklim berprestasi yang mampu mendorong atlet meraih level puncak, di samping "rasa aman" dalam menatap masa depannya. Rasanya tidak ada pilihan lain kecuali memberi peluang bagi insan-insan olahraga berprestasi itu dalam mengakses jaminan masa depannya. Dengan cara itulah secara nyata kita memberi penghargaan terhadap jerih payah dan kesetiaan mereka kepada provinsi ini. |