logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 12 Mei 2005 NASIONAL
Line

Studi Banding Pengembangan Ekonomi Jerman (3-Habis)

Festival Antarwilayah Pacu Pembangunan

ADA contoh menarik tentang kerja sama wilayah di Jerman, yang dijadikan sarana untuk saling bekerja sama dan berkompetisi dengan baik guna membangun dan memajukan perekonomian di wilayah tersebut. Ajang itu dinamai Regionale yang berlangsung di wilayah bagian barat Jerman (Westphalia), tepatnya Remsceid, Wuppertal, dan Sollingen.

Ingat Sollingen, tentu ingat produk baja seperti pisau, gunting, dan aneka alat-alat dapur berkelas yang juga digemari masyarakat Indonesia. Produk itu memang dihasilkan oleh pabrik metal yang ada di kota yang termasuk wilayah Bergische tersebut. Nama kota sekaligus digunakan sebagai nama produk unggulan yang kemudian diproduksi secara massal. Memang, merek tersebut keluar dari ajang kompetisi Regionale yang diselenggarakan setiap tahun di wilayah yang dijuluki sebagai Bergische Triangle (Segitiga dari Bergische). Tiga kota itu setingkat dengan Kota Solo atau Semarang, masing-masing dipimpin seorang wali kota.

"Setiap tahun Regionale digelar dan masing-masing kota harus mengajukan proposal yang nantinya akan dilombakan. Proposal tersebut kemudian dikerjakan setelah "dibantai" habis oleh Dewan Juri dari provinsi yang dibentuk secara ad hoc. Setelah dinilai, proposal kemudian dikerjakan dan hasilnya akan dipantau setiap tahun, untuk kemudian ditentukan siapa juaranya," kata Dr Mayastama, pemandu dari GTZ. Ketiga kota itu memiliki keunggulan sendiri-sendiri. Remscheid berkonsentrasi pada pembangunan infrastruktur berupa jaringan transportasi. Hasil yang unggul adalah kereta gantung yang dikembangkan untuk mengatasi sulitnya transportasi di wilayah yang berada di perbukitan itu.

Kereta gantung itu kemudian menjadi salah satu potensi wisata. Sollingen maju di bidang industri metal dan sampai sekarang masih terus berkembang dengan produk baja, serta industri otomotif untuk menunjang berbagai produk otomotif terbesar seperti Opel, VW, dan Jaguar. Wupertal adalah kota dengan hasil penelitian yang tinggi, yang ditunjang oleh Wuppertal Technical Academy.

Ada Dr Schrick GmbH, pusat riset otomotif yang memproduksi prototipe mesin unggulan di bidang otomotif yang selama ini dipesan oleh berbagai industri otomotif kelas raksasa seperti VW, Bugati, BMW, Mercedez Benz, Toyota, dan Mitsubishi Jepang. Juga ada raksasa Bayer yang berada di kota itu. Ketiga kota bekerja sama saling membantu untuk mempromosikan produk yang mereka miliki dan juga membuat rancangan pembangunan bersama yang keuntungannya bisa digunakan secara bersama pula. Lewat kegiatan Regionale itu masing-masing menyusun konsep pembangunan yang terkait bidang pengembangan kota, turisme, dan pengembangan ekonomi khususnya pemasaran produk yang dihasilkan kota itu, misalnya mempromosikan jembatan tertinggi di Jerman yang menghubungkan Wuppertal dan Sollingen yang dibangun tahun 1897. Karena kedua kota itu berada di daerah atas, jembatan penghubung tersebut terletak di atas bukit dan menjadi obyek turis.

Saat peringatan 100 tahun jembatan itu ternyata dirasakan sudah kehilangan daya tarik orisinalitasnya. Karena itu, dalam Regionale 1997 diselenggarakan proyek bersama untuk mengangkat kembali objek turis berupa jembatan tersebut. Tahun 2004 digelar Regionale yang kemudian menghasilkan pemikiran perlu adanya kereta kabel melintasi bukit yang bisa melihat langsung jembatan itu. Digelar juga berbagai kegiatan di bawah jembatan, forum turisme yang mendatangkan agen-agen turis, dan sebagainya. Kini, jembatan tersebut menjadi simbol tiga kota itu dan kembali menghasilkan devisa dari sektor turisme.

Subosuka Wonosraten

Kerja sama itulah yang sebenanya ingin ditiru dan diterapkan oleh para pimpinan Subosuka Wonosraten yang secara khusus diundang ke Jerman. Kerja sama memang menjadi kata kunci, karena ke depan langkah ini akan sangat efektif dan efisien untuk mengembangkan wilayah tersebut. Tidak zamannya lagi satu daerah bersaing dan mementingkan diri sendiri untuk berkembang.

Di akhir perjalanan, para pimpinan daerah sepakat menandatangani kesepakatan kerja sama antarwilayah. "Mumpung GTZ bisa memfasilitasi, mestinya hal itu dimanfaatkan untuk mengembangkan tujuh wilayah yang ada," kata Dr Ir Arifin Rudiyanto, Direktur Pengembangan dan Kerja Sama Wilayah Bappenas yang ikut serta dalam rombongan itu.

Dia mendukung gagasan membuat holding, sebagaimana dikemukakan Bupati Sragen Untung Wiyono dan Bupati Karanganyar Rina Iriani. Untuk langkah awal, pemanfaatan keberadaan Badan Koordinasi Antar-Daerah (BKAD) Subosuka Wonosraten bisa dimungkinkan. Hal yang sama dikemukakan Rina. Mestinya, ada komitmen seluruh pimpinan daerah agar kerja sama tersebut akhirnya bisa berjalan dengan baik.

Kepala Bapeda Jateng Prof Dr Miyasto mengatakan, ada contoh bagus yang dikerjakan Barlingmas Cakep (Banyumas, Purbalingga, Cilacap, Kebumen, dan Purwokerto). Mereka sudah selangkah lebih maju meski forum kerja sama itu sebenarnya dibentuk lebih akhir dibandingkan Subosuka Wonosraten. "Daerah iuran Rp 100 juta selanjutnya membentuk perusahaan swasta yang diserahkan kepada seorang manajer ahli. Hasilnya, kini sudah bisa memasok sampai Rp 2 trilyun untuk daerah tersebut dari hasil lelang ikan dan produk unggulan lainnya," kata dia.(Joko Dwi Hastanto-46v)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA