| Kamis, 12 Mei 2005 | NASIONAL |
Sasana Bank Buana Indonesia (3-Habis)Membutuhkan Biaya Rp 9 Juta Per Bulan
SUTAN Rambing merupakan tipe pria yang tidak kenal lelah dalam mencetak juara tinju. Kehadiran mantan juara nasional kelas bantam pro ke Kota Lumpia pada tahun 1976 itu memang dengan obsesi menggumpal ingin mencetak juara tinju. Dari polesan tangan dinginnya selama 19 tahun (1976-2005) di Sasana Adam, Orang Tua, Tugu Muda, dan Bank Buana Indonesia telah tercetak puluhan juara nasional maupun internasional baik amatir maupun profesional. Di jalur amatir, tersebutlah nama-nama top seperti Sugiarto, Sudarsono, Tono Anggono, Ruslan Rambing, Pujo Ardianto, Chandra Darusman, Chasimeros, Agus Triono, Subandrio, Edi Sabena, Chrisjon, Bing Wonanto, Daeng Sukadi, Didik Hartanto, Wuryanto, Muhar Sutan, Sonny Rambing, Arthur Rambing, dan Temuzin Rambing. Belakangan ini muncul nama Akasa Rambing, Rasmanudin dan Amri Achmad. Di gelanggang tinju profesional, dari tangan Sutan menghasilkan nama juara nasional Ferdinand, Andrian John (adik Chrisjon), Wito Ramirez, Ciko Mendoza, Agus Suyanto, Arthur Rambing, Sonny Rambing dan Chrisjon. Sonny sempat pula menjadi juara Asia versi PABA sementara (ad enterim) kelas welter dan Chrisjon tak sekadar meraup juara PABA kelas bulu namun juga juara dunia versi WBA (World Boxing Association) yang hingga kini masih disandangnya. Hengkangnya Chrisjon ke Sasana Harry's Gym Australia dengan bumbu intrik, membawa luka yang mendalam di hati Sutan Rambing. Namun ia pantang putus asa untuk terus berjuang mencetak juara dunia baru. 50 Petinju Di Sasana Bank Buana Indonesia yang bermarkas di Kampung Lasipin, Jl Dr Cipto Semarang, kini ada 50 petinju terdiri atas 15 petinju pro yang siap bertanding dan 35 petinju amatir. Namun dari 50 atlet tersebut hanya 11 petinju yang menghuni asrama (tujuh profesional dan empat amatir). Sutan tak membuat syarat yang sulit untuk peminat yang ingin ikut berlatih di BBI. Dia cuma mensyaratkan calon petinju berusia 15-20 tahun, ditambah uang pendaftaran Rp 50 ribu. "Tak ada iuran bulanan. Dulu daftarnya memang gratis, kini bayar agar mereka memiliki tanggung jawab berlatih serius dan juga untuk membayar honor pelatih," tandas Temuzin, putra Sutan Rambing yang belakangan ini aktif menjadi promotor. Sedangkan syarat untuk menghuni asrama, hanyalah mereka yang memiliki potensi bagus. "Hanya mereka yang tahan banting dan tidak gampang menyerah yang bisa menghuni asrama," tandas Sonny Rambing pelatih BBI. Untuk tinju pro ditangani tiga pelatih, Sonny, Agus Suyanto, dan Matukar. Sedangkan untuk amatir dipoles pelatih Mohar Sutan (mantan juara nasional). Untuk biaya makan petinju, istri Sutan Rambing (Ny Mairines) harus mengeluarkan dana Rp 300 ribu setiap hari. "Belum lagi kalau sakit, kita semua yang membiayai dan kita anggap mereka seperti anak sendiri," ujar Ny Meirines, wanita berdarah Madura berusia 48 tahun ini. Untuk yang tinggal di asrama, Sutan Rambing setiap bulan memberikan uang saku setiap petinju amatir Rp 200 ribu dan profesional Rp 300 ribu. Artinya, dalam sebulan, Sutan Rambing mesti merogoh kocek sedikitnya Rp 9 juta. Biaya dari mana? "Dari usaha bapak (Sutan Rambing-red), Billiard Inack di Pasar Johar dan di Ungaran," tutur Ny Mairines, sembari tetap mengepel lantai bersama petinju yunior. "Dulu Chrisjon kala datang ke sini pertama juga turut menyapu dan mengepel lantai seperti ini." Untuk mengimbangi latihan keras petinju dengan kebutuhan sedikitnya 2.000 kalori, maka petinju perlu menyantap makanan bergizi tinggi. "Setiap pagi petinju menyantap roti, kacang hijau dan susu, sedangkan siang dan sore mereka makan nasi plus lauk-pauknya termasuk 3-4 butir telur ayam," papar Temuzin. (Paulus Noor Mulia-40) | ||||