| Kamis, 12 Mei 2005 | NASIONAL |
Soeharto Meninggalkan Rumah Sakit
JAKARTA - Setelah menjalani perawatan selama seminggu karena pendarahan usus besar, mantan presiden Soeharto Rabu (11/5) sore kemarin sudah diizinkan meninggalkan Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP). Meskipun demikian mantan orang kuat Orde Baru itu masih harus mendapat perawatan intensif untuk memulihkan kesehatannya. Sejak mendapatkan perawatan di RSPP 5 Mei lalu, kesehatan Soeharto beranjak pulih. Karena itu, tim dokter yang memeriksanya mengizinkan pihak keluarga untuk membawa pulang presiden RI kedua itu. Setelah mendapatkan lampu hijau dari tim dokter, sekitar pukul 16.50 Soeharto meninggalkan rumah sakit. Mengenakan baju koko hijau muda dan sarung ungu, tokoh yang pernah sangat berpengaruh itu keluar dari pintu instalasi Unit Gawat Darurat (UGD) dengan kursi roda, didorong seorang perawat RSPP. Tampak mengantar Soeharto, puterinya Siti Hardiyanti Rukmana (Mbak Tutut) dan mantan Menteri Sekretaris Kabinet Saadilah Mursyid serta Dirut RSPP Dr Sutji A Mariono. Meski sudah boleh meninggalkan rumah sakit, mantan presiden berusia 84 tahun itu masih harus mengenakan selang infus. Sebelum meninggalkan RSPP, pihak rumah sakit sempat memberikan kesempatan pada para wartawan foto untuk mengambil gambar. Mendengar namanya disebut-sebut, meski masih tampak lemah Soeharto merespon dengan melambaikan tangannya sambil melempar senyum. Selanjutnya dengan kursi rodanya Soeharto dibimbing masuk mobil van Toyota Alphard hitam bernomor polisi B-8834-AT yang membawanya kembali ke Cendana. Mengenai kepulangan Soeharto ini, dalam keterangannya kepada pers Dirut RSPP Dr Sutji A Mariono mengatakan, yang meminta pulang adalah Pak Harto. Meski Hb-nya baru 11,6, namun secara keseluruhan keadaan Pak Harto baik. "Artinya pendarahan pada usus besar sudah berhenti. Hb naik menjadi 11,6 dari 7,8. Tetapi, detak jantung, paru, dan ginjal belum optimal sehingga masih perlu perawatan serta observasi secara tepat," katanya. Sementara itu, ahli urologi Prof Dr Joko Raharjo mengatakan mesti keadaan Pak Harto baik tetapi Hb-nya belum ideal. "Tapi seperti pada umumnya orang tua ada aspek psikologis yang perlu diperhatikan karena lebih merasa nyaman di rumah, untuk menghindari tekanan psikologis yang muncul saat dirawat di rumah sakit," katanya. Tak Relevan Sebelum meninggalkan rumah sakit, sejak pagi hingga siang hari sejumlah tokoh tampak menjenguk Soeharto. Diantaranya Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafiie Ma'arif, mantan ketua umum Partai Golkar Akbar Tandjung beserta istri, Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla, Siswono Yudho Husodo dan lain-lain. Syafiie Ma'arif yang datang sekitar pukul 10.30 WIB menuturkan, ketika dirinya datang Soeharto sedang tidur. Ma'arif menyatakan sempat memegang kaki Pak Harto. Ditanya apakah Soeharto perlu diberi amnesti, Ketua Umum PP Muhammadiyah itu mengatakan hal itu tidak relevan dibicarakan sekarang karena belum diadili. "Yang penting saat ini Pak Harto sehat dulu. Masalah amnesti semuanya tergantung presiden," katanya. Sementara itu, Akbar Tandjung menjelaskan ketika dirinya datang Soeharto tengah tidur, sehingga tidak ingin mengganggu. Ketika ditanya soal amnesti, Akbar mengatakan sebaiknya amnesti itu diberikan mengingat jasa-jasa Soeharto pada bangsa dan negara. Jusuf Kalla yang datang pukul 10.45 tampak disertai dengan Aburizal Bakrie, Siswono Yudho Husodo, Surya Paloh, Prabowo, Fahmi Idris, dan M Assegaf. Ditanya masalah kasus Soeharto, Kalla mengatakan ; "Pak Harto kan tidak terkait kasus korupsi. Perkaranya tak lagi diajukan ke pengadilan. Jadi buat apa diadili dan diberi amnesti?". Sementara itu, Siswono Yudho Husodo mengatakan sebaiknya kasus Soeharto dibekukan mengingat jasanya selama ini diberikan pada bangsa dan negara.(aih,A20-49v) | ||||