| Kamis, 12 Mei 2005 | EKONOMI |
Penjualan Cinderamata di Triwindu TurunSOLO -Pendapatan pedagang Pasar Triwindu Solo mengalami penurunan drastis. Para pedagang yang pendapatanya turun adalah pedagang onderdil sepeda motor bekas. Sementara pedagang cinderamata dan barang antik, pendapatannya mengalami penurunan drastis antara 60% - 70%. ''Kasus bom Bali dampaknya hingga kini masih terasa. Turis mancanegara yang biasanya banyak datang, saat ini hanya beberapa saja yang belanja di pasar ini,'' kata Pengurus Paguyuban Pedagang Pasar Triwindu (P3T), Sunarto, kemarin Menurut dia sebelum terjadinya bom Bali, setiap pedagang cinderamata dan barang antik sebulan bisa memperoleh hingga jutaan rupiah. Namun, sekarang ini dalam sebulan bisa memperoleh dapat Rp 300 ribu saja sudah bagus. ''Pengaruh bom Bali itu hingga saat ini masih dirasakan,'' imbuh dia. Pasar di depan Pura Mangkunegaran ini dijual aneka barang antik asli dan repro. Dibandingkan barang antik, yang repro lebih banyak. Perbandingannya, 20% antik, 20% hasil repro. Selain itu di sini juga dijual suku cadang sepeda motor bekas dan alat-alat pertukangan. Pembeli barang antik itu sebagian besar turis mancanegara. Biasanya mereka datang secara rombongan dan membeli barang dalam jumlah banyak. Namun setelah terjadi bom Bali, turis mancanegara yang datang menurun drastis. ''Kami tak tahu kapan pasar ini akan ramai kembali seperti semula,''ujar Sunarto. Barang-barang antik yang dijual di pasar ini antaralain boneka pengantin, sepasang dijual antara Rp 30 ribu hingga Rp 300 ribu, piring porselin, dijual dengan harga Rp 40 ribu - Rp 50 ribu, tempat lilin berbentuk naga terbuat dari perunggu dijual dengan harga Rp 75 ribu - Rp 100 ribu. (bt-59) |