logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 12 Mei 2005 BUDAYA
Line

Mencari Definisi Performance Art

SEORANG lelaki berambut gondrong bergegas naik ke atas tangga lipat di kawasan Boat Quay Singapura. Tepat di hadapan The Raffles Landing Site Statue yang berdiri arogan bersedekap tangan, ia mulai berulah. Awalnya sekadar ''berbincang'', namun lama-lama berubah menjadi sumpah serapah.

Tak berhenti di situ, dalam amarah memuncak, lelaki tersebut melempar ''muka'' Raffles dengan alas kaki, celana serta bajunya. Lebih gila lagi, ia mengarahkan (maaf) pantat telanjangnya kepada tokoh pendiri Kota Singapura itu.

Aksi tersebut hanyalah satu di antara beberapa rekaman performance art yang ditampilkan dalam acara Pemutaran Dokumentasi Performance Art dan Diskusi di Laboratorium Seni dan Kebudayaan Lengkongcilik, Jalan Lamper Tengah XII/19 Semarang, Senin (9/5) malam.

Boleh jadi di mata awam, performance art Jason Lim tersebut tak ubahnya sebagai tindakan aneh yang nyaris serupa perilaku orang gila.

Padahal, sejatinya ia adalah sebuah genre kesenian. Kemunculan performance art sudah cukup lama. Embrionya sudah ada sejak awal abad ke-20. Meski demikian, kesenian yang sering ditempatkan pada ranah kontemporer itu hingga kini belum terdefinisikan secara tegas.

SS Listyowati, pegiat seni asal Surabaya yang tengah melakukan riset performance art di Indonesia, Malaysia dan Singapura hanya memberi batasan, bahwa performance art sebagai seni yang terkonsep (conceptual art).

Artinya, seorang performance artist menggunakan tubuhnya sebagai medium konseptual.

Oposisi Seni

Dalam perkembangannya, genre tersebut justru menjadi oposisi dari seni itu sendiri. Menolak estetika dan menjungkirbalikkan nilai-nilai konvensional yang ada.

Namun apakah kemudian batasan tersebut dijalankan secara benar?

Pegiat teater Eko Tunas meragukan sebagian performance artist di Indonesia punya landasan ideologi yang kuat di sebalik karya-karyanya. Jangan-jangan mereka sekadar meniru-niru (epigon) belaka. Tak heran jika ia lantas bercuriga bahwa performance art yang sejati adalah bentuk kesenian yang cuma bisa dilakoni oleh para seniman yang telah mencapai tahap proses kreatif tertentu. Ia menjadi semacam katarsis untuk meretas kejumudan.

''Saya kira, seniman-seniman kemarin sore yang tampil kesana kemari itu belum bisa dikategorikan sebagai performance artist. Kalau boleh menyebut seorang performance artist di Indonesia mungkin Budi S Otong''.

Lalu, sejauh mana ideologi tersebut dapat diukur?

Listyowati menggunakan parameter Barat untuk menentukan, yakni dengan melihat totalitasnya. Dalam hal ini, seniman merupakan representasi dari karya-karyanya.

Sedangkan sastrawan Triyanto Triwikromo mengingatkan untuk tak selalu menggunakan sudut pandang orientalis dalam mengkaji persoalan ini. Ia merasa jengah ketika seseorang memaknai pertunjukan Tanto Mendut di Merbabu sebagai sebentuk performance art. Padahal, sejatinya itu cuma ritual biasa bagi pelakonnya. (Rukardi-43)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA