| Jumat, 06 Mei 2005 | SALA |
Salah, Anggap Upacara di Keraton Tak JalanKERATON SURAKARTA - Salah besar kalau ada orang bilang prihatin dan menganggap upacara-upacara tradisi/adat sudah tidak dijalankan lagi di Keraton Surakarta. Bahkan kalau orang yang bilang demikian itu bagian dari komunitas adat peninggalan Dinasti Mataram, mereka itu sebenarnya tidak tahu sama sekali terhadap persoalan sejarah dan budaya di Keraton. "Kalau sampai ada sebagian orang dalam yang merasa prihatin dan berkata seperti itu, saya bisa memastikan mereka itu tidak tahu persoalan sejarah leluhurnya sendiri. Lha wong enol puthul (nol besar-Red) kok merasa prihatin, apalagi ngomong upacara-upacara adat tidak berjalan. Itu namanya waton sulaya (asal bicara-Red)," tegas GPH Puger selaku Pengageng Museum dan Pariwisata di Sasana Pustaka, kompleks Keraton, kemarin. Dia menganggap keliru pernyataan beberapa orang dalam yang kini berada di luar institusi Keraton, akibat ontran-ontran pada saat proses suksesi berjalan beberapa waktu lalu. Pernyataan mereka di sejumlah media itu antara lain berupa ungkapan rasa prihatin dan menganggap upacara-upacara tradisi dan budaya Keraton tidak berjalan. Bahkan di antara kondisi yang diprihatinkan itu adalah tidak adanya sikap responsif Keraton terhadap kondisi negara yang dinilai sedang butuh dukungan moral dan spiritual. Melihat itu, GPH Puger mengatakan, Keraton tidak pernah lalai atau sengaja membiarkan lingkungan besar bangsa dan negara ini terus-menerus menderita. "Mereka itu perlu tahu, bukankah ritual Sekaten atau Garebek Mulud dan berbagai ritual itu selama ini masih eksis dijalankan di Keraton? Apakah mereka itu tahu bahwa berbagai ritual itu sebenarnya wujud doa dan harapan untuk keselamatan dan kesejahteraan bangsa dan negara kita tercinta ini?. Keprihatinan mereka itu rasanya kok ngayawara (ngelantur-Red)," tegasnya lagi. Wilujengan Nagari Selain ritual Sekaten 2005 atau Garebek Mulud yang baru saja berlangsung selama sebulan, upacara adat atau kegiatan budaya dalam menjaga kelangsungan Keraton kini tiba giliran wilujengan nagari Mahesa Lawung. Ritual yang intinya berupa membuang simbol-simbol buruk atau tidak enak ke Hutan Krendawahana, Gondangrejo, Karanganyar itu dijadwalkan berlangsung awal Juni mendatang. Dalam pandangannya, prosesi ritual Mahesa Lawung yang selama ini berjalan hanyalah sebentuk utusan dalem yang membawa kepala kerbau, aneka makanan yang belum matang, aneka jenis hama dan serangga serta simbol-simbol buruk lainnya ke Kerajaan Setra Ganda Mayit, tempat bertahta Bathari Durga dalam dunia pewayangan. Namun sebenarnya ada peristiwa besar berupa wilujengan nagari yang seharusnya dilangsungkan di Pendapa Pagelaran Sasanasumewa atau Sitinggil Lor. "Dulu pada era lama, usul saya untuk menggelar wilujengan nagari itu selalu dihalang-halangi. Katanya, yang penting prosesinya ke Krendawahana. Padahal dalam referensi kepustakaan, jelas-jelas tertulis itu hanya utusan dalem. Ritual yang baku adalah wilujengan nagari di Pendapa Pagelaran atau Sitinggil Lor. Yang terlibat, semua komponen masyarakat lintas agama," jelas sedherek dalem Sinuhun Paku Buwono XIII itu. Jadi, katanya, hampir semua ritual, termasuk wilujengan nagari itu, intinya merupakan sikap spiritual dan doa pihak Keraton untuk masyarakat luas, bahkan dalam lingkup bangsa dan negara ini. Tidak hanya ritual menjaga kelangsungan dan eksistensi Keraton, tapi juga berupa revitalisasi budaya dan renovasi-renovasi bangunan serta isinya yang kini masih berjalan. (won-18n) |