logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 06 Mei 2005 OLAHRAGA
Line

Hiddink Kecewa, Ambrosini Pahlawan Milan

EINDHOVEN - Pelatih PSV Eindhoven Guus Hiddink mengatakan, kekalahan dari AC Milan berdasarkan gol di kandang lawan pada semifinal Liga Champions, bukan momentum terburuk dari karier gemilangnya. PSV menang 3-1 atas tamunya, AC Milan, Kamis dini hari WIB kemarin, tapi gagal melaju ke partai puncak.

Skor total dari dua pertemuan memang imbang 3-3. Namun Milan yang berhak menghadapi Liverpool pada final di Istanbul, Turki, 25 Mei mendatang, karena lebih produktif dalam duel di kandang lawan.

"Mengenai hasil pertandingan, saya merasa bangga dan juga kecewa," kata Hiddink yang memimpin PSV merebut gelar Liga Champions (dulu Piala Champions) pada 1988.

"Namun itu bukan kekecewaan terbesar dalam karier saya. Pengalaman terburuk saya adalah ketika sebagai pelatih tim nasional Belanda kalah dari Brasil di semifinal Piala Dunia 1998," tambah Hiddink yang membawa Korea Selatan ke semifinal Piala Dunia 2002.

Pemain veteran PSV Phillip Cocu pun sangat terpukul. "Saya merasa sakit. Pertandingan ini memerlukan ketangguhan mental dan fisik. Hal itu yang menyebabkan kami harus kalah,'' ungkap bekas pemain Barcelona ini.

''Hasil akhir sepak bola kadang-kadang sangat kejam," tandasnya.

Ungkapan senada dilontarkan striker Jan Vennegoor of Hesselink. ''Benar-benar mengerikan, sangat tak adil," ujar Jan Vennegoor.

PSV memang mendominasi Milan pada tiap aspek permainan. Tim tuan rumah memimpin 2-0 lewat gol Park Ji-sung dan Cocu, sampai Massimo Ambrosini membuyarkan impian mereka dengan sebuah gol. Gol kedua Cocu setelah aksi Ambrosini pun jadi tak berarti.

Pujian Ancelotti

Pelatih AC Milan Carlo Ancelotti secara sportif memuji penampilan PSV. Dia menilai pertandingan di Eindhoven sangat mengagumkan.

"PSV bermain amat luar biasa, tapi kami yang melaju karena meratanya kebugaran dengan tingkat mengagumkan,'' tutur Ancelotti.

"Kami tak menerapkan strategi untuk kalah dalam pertandingan yang demikian mendominasi, namun karena PSV benar-benar menguasai kami."

Ancelotti, yang memimpin Milan merebut trofi Liga Champions dua tahun lalu, mengakui, mereka akan menghadapi dengan serius pertandingan final melawan Liverpool.

"Kami perlu menganalisis apa yang salah malam ini dan berusaha memerbaikinya," tegas mantan pemain tengah Milan itu.

Dia tak pernah berpikir akan mengalami hal yang sama pada musim lalu. Kala itu Milan dihancurkan Deportivo La Coruna pada perempat final meski memimpin 4-1 dalam pertandingan pertama.

Ambrosini yang menjadi pahlawan Milan, begitu terkesan dengan bola yang dimainkan. "Bola itu saya bawa pulang," kata gelandang berusia 27 tahun itu.

Dia lalu menambahkan, "Kami menderita. Mereka bermain sangat bagus, tapi kami mampu membatasi kekalahan.'' (rtr,A7-31)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA