| Jumat, 06 Mei 2005 | NASIONAL |
SOSOKMengabdi Keraton
MENGENAKAN baju batik dan blangkon, siapa sangka sosok yang satu ini sebagai Komandan Pasukan Keraton Surakarta. Berbeda dari komandan pasukan dalam militer, baju batik menjadi pakaiannya saat di lingkungan keraton, seperti saat menerima tamu dari luar keraton. Dia adalah KRT Wirantodipuro. Usianya 69 tahun. Wiranto yang kelahiran Bekonang, Sukoharjo, itu telah 42 tahun mengabdi di Keraton Surakarta. Itu berarti sejak usia 27 tahun dia mulai mengakrabi lingkungan Keraton Surakarta yang bersuasana teduh itu. Teduh dan adem memang. Keraton memiliki pohon-pohon rindang dan besar yang berusia ratusan tahun. Salah satu pohon yang tumbuh di sana berusia sekitar 110 tahun. Burung-burung hinggap di ranting-rantingnya. Sayup-sayup terdengar pula suara gamelan mengalun. ''Saya betah di keraton,'' kata Wiranto seusai mengikuti audiensi antara Keraton Surakarta dan Panitia Peringatan 600 Tahun Pendaratan Laksamana Cheng Ho, Rabu (4/5). Sang Komandan lantas bercerita soal pasukan berkuda dari keraton. Pasukan itu menjadi salah satu perbincangan hangat berkaitan dengan peringatan Cheng Ho. Dia ''membawahkan'' seluruh pasukan keraton. Ya, dana menjadi salah satu persoalan untuk mengembangkan aset budaya nasional itu. Tidak hanya pasukan keraton, tetapi juga persoalan perawatan dan penyelenggaraan agenda yang berkaitan dengan keraton. Apalagi setelah muncul ontran-ontran internal kekerabatan Keraton Surakarta setelah Paku Buwono XII wafat. Wiranto kini mendapat tali asih Rp 4.500 per bulan. Nominal yang belum tentu cukup untuk membeli sebungkus rokok. (Agus Toto W-58t) | ||||