| Jumat, 06 Mei 2005 | NASIONAL |
Keraton Solo Siap Meriahkan Karnaval Cheng Ho
SEMARANG- Peringatan 600 tahun pendaratan Laksamana Cheng Ho pada 3-7 Agustus mendapat respons positif dari Keraton Surakarta. Pihak keraton menyatakan siap untuk mengirimkan pasukan keraton lengkap dengan kuda dan penunggangnya. Bahkan, keraton juga siap mengirimkan kereta tunggangan raja yang menjadi aset budaya nasional. Kesiapan keraton untuk memeriahkan peringatan tersebut disampaikan oleh Ketua Lembaga Hukum Keraton Surakarta KP Wirabumi SH MM saat audiensi dengan panitia peringatan Cheng Ho, Rabu (4/5), di Ruang Keraton Dalem. Panitia peringatan dihadiri oleh Ketua Umum Sindu Dharmali, Sekretaris II Salim Setyaji, Ketua Ritual Klenteng Tay Kak Sie Yono Sukamto, Kepala Dinas Pariwisata Jateng Agus Suryono, dan perwakilan dari Capung Organizer. Wirabumi mengemukakan, pihaknya cukup bangga ikut dilibatkan dalam momen tersebut. ''Kami siap menyediakan pasukan, kereta, serta kuda beserta penunggangnya. Berapa pun yang diminta, kami siap. Dua, dua puluh, atau dua ratus,'' katanya merespons tawaran panitia peringatan Cheng Ho. Jawaban tersebut cukup melegakan panitia. Untuk lebih memfokuskan agenda peringatan, antara Keraton Surakarta dan panitia langsung melakukan pertemuan lebih intensif saat itu juga. Sindu Dharmali mengungkapkan, panitia peringatan menginginkan ada publikasi menyangkut budaya nasional. Peringatan 600 Tahun Pendaratan Cheng Ho perlu melibatkan semua pihak. ''Ini momen yang luar biasa. Yang pertama bisa mengembangkan pariwisata Jawa Tengah, kedua menarik investasi asing ke Jawa Tengah, serta ketiga menggairahkan perekonomian masyarakat kecil,'' paparnya. Dia mengungkapkan, Cheng Ho melakukan pelayaran tujuh kali dimulai dari Kota Cangklok, Fujian. Antara Fujian dan Jateng sudah menjadi sister province atau provinsi kakak beradik, sehingga perlu dikembangkan kerja sama yang lebih erat. Cheng Ho mendarat tiga kali di Indonesia, antara lain di Aceh, Palembang, Cirebon, Semarang, Tuban, dan Gresik. ''Pendaratan spesial adalah di Kota Semarang di Klenteng Sam Po Kong. Klenteng itu terdapat gua, sumur, dan tempat pemujaan yang identik dengan Cheng Ho.'' Dia menyampaikan, peninggalan Cheng Ho juga terdapat di Malaka, Malaysia. Namun klentengnya tetap lebih bagus di Semarang, apalagi setelah renovasi. Cheng Ho datang pada zaman Majapahit atau masa kejayaan Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta. ''Apa yang saya lontarkan untuk melibatkan Keraton Surakarta ternyata mendapat respons positif dari KP Wirabumi,'' tuturnya. Wirabumi mengungkapkan, keraton akan menyediakan semua yang diminta oleh panitia, termasuk budaya seni tari. Bukan hanya pasukan keraton, keluarga keraton juga akan menjadi penunggang kuda. Dia menyebutkan, keraton sebagai pusat segala macam budaya dan pemerintahan pada masa lalu memiliki hubungan dengan negara-negara asing. Tak hanya Eropa, tetapi juga China. ''Di keraton ini ada pot-pot bunga dari China. Artinya, keikutsertaan keraton bukan hanya masalah peringatan Cheng Ho, melainkan juga hubungan multikultural yang terbangun sejak dulu,'' katanya. Wirabumi dalam acara itu didampingi oleh Pengangeng Mandro Budoyo BKPH Prabuwinoto, Komandan Prajurit Keraton KRT Wirantodipuro, Wakil Pengageng Sasono Wilopo KRT Winarnodipuro, serta Wakil Pengageng Pasiten BPH Kusumowijoyo dan putra-putra sinuhun. Setelah audiensi, rombongan panitia mendapat kesempatan untuk berkeliling areal keraton yang memiliki aset budaya nasional. Panitia melihat pula tiga kereta peninggalan raja-raja termasuk Kjahi Groedo. Yaitu kereta yang dipakai oleh Paku Buwono II saat pindah dari Keraton Kartosuro ke Keraton Surakarta pada 1617. (G1-29t) | ||||