| Jumat, 06 Mei 2005 | NASIONAL |
Ramayana Prambanan Menatap Zaman (1)Senyum "Sinta" untuk Dunia Pendidikan
EMPAT puluh empat tahun sudah usia Ramayana Ballet Prambanan. Sejak didirikan pada 25 Agustus 1961, hingga kini tempat itu masih menjadi pusat perhatian para pelancong dan para seniman. Baik dalam berproses kreatif maupun mencari nafkah. Masih beberapa jam lagi pentas Sendratari Ramayanana akan digelar. Namun Selasa (3/5) sore itu sudah ada aktivitas di Panggung Terbuka Candi Prambanan, tempat untuk pentas. Sejumlah penari dari Kelompok Sekar Puri sedang latihan. Yang menarik, di antara para penari itu terlibat pula puluhan anak seusia siswa SD. Meski canda-tawa seperti tak pernah lepas dari keceriaan mereka, namun saat menari keseriusan tampak jelas pada wajah anak-anak itu. ''Mereka akan memerankan pasukan kera, yang dalam cerita Ramayana turut membantu Rama dalam merebut Sinta dari tangan Rahwana,'' papar Ir Guntur Purnomo Adi, Operation and Development Director PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko. Sejatinya keberadaan anak-anak dalam pentas Ramayana bukanlah hal yang aneh lagi. Paling tidak, setiap kali pentas di area panggung terbuka, hampir selalu ada kelompok penari anak-anak yang turut terlibat memerankan prajurit kera. ''Ada delapan kelompok tari yang selalu bergantian mengisi acara di Panggung Ramayana Prambanan. Untuk panggung terbuka, ada Yayasan Roro Jonggrang, Wisnu Murti, Guwo Wijaya, dan Sekar Puri. Sementara untuk panggung tertutup (Tri Murti), ada kelompok tari Kasanggit, Puspawarna, UGM Yogyakarta dan UMY,'' ujar Guntur. Di sisi lain, keberadaan anak-anak itu menurut dia juga menjadi salah satu contoh tentang multiplier effect atas keberadaan Ramayana Prambanan. Paling tidak, hal itu seperti yang terungkap dari sejumlah kisah yang mengiringi keterlibatan anak-anak yang mayoritas penduduk sekitar Candi Prambanan tersebut. ''Tak sedikit di antara anak-anak itu yang menggantungkan biaya pendidikan dari hasil menari di sini. Dan itu justru saya dengar dari guru mereka, yang kadang juga sering menonton pentas,'' tambahnya. Ekonomi, Edukasi, dan Ideologi Demikianlah memang, kebaradaan Ramayana Prambanan boleh jadi tidak sekadar berimbas terhadap dunia kepariwisataan. Dan kisah tentang anak-anak yang terlibat di dalamnya mungkin hanyalah satu di antara berbagai dampak sampingan tersebut. Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya UGM Yogyakarta Prof Dr KRT Haryono Hadinagoro bahkan mengungkapkan tentang tiga manfaat dari keberadaan Sendratari Ramayana Prambanan. Menurut dia, selain ekonomi, manfaat lain adalah edukasi dan ideologi. ''Edukasi jelas dengan pentas ini memberikan pendidikan bagi para generasi untuk tergugah menekuninya. Ekonomi memberikan dampak pada sektor wisata. Sementara ideologi, pentas ini diharapkan akan menumbuhkan kebanggaan memiliki warisan budaya,'' tandasnya. Mungkin benar apa yang dikemukakan oleh penasihat Yayasan Roro Jonggrang dan pembina Sekar Puri itu. Paling tidak, pengertian ketiga manfaat itu memang terlihat ketika pada malam harinya pentas Ramayana berlangsung di panggung terbuka. Ratusan turis asing yang begitu takjub melihat kepiawaian para penari tentu telah memberikan kontribusi pada devisa negara. Di tribune yang lain, sekelompok anak sekolah tak henti bertanya pada gurunya tentang cerita Ramayana yang sedang dibeberkan. Sementara itu, di panggung, sekelompok penari anak-anak yang memerankan prajurit kera barangkali juga sedang berharap, hasil yang mereka dapatkan dari menari mudah-mudahan akan selalu menjadi jaminan bagi kelangsungan pendidikan mereka. Maka ketika segurat senyum Sinta mengembang saat bertemu Rama, boleh jadi itu bukan hanya untuk para turis. Namun juga untuk dunia pendidikan, terutama generasi muda yang terlibat dalam pentas sendratari yang mengetengahkan epos Ramayana tersebut.(Wisnu Kisawa-41t) | ||||