logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 06 Mei 2005 NASIONAL
Line

Emosi Porras Nodai Kemenangan PSIS


PERMAINAN KERAS: Striker PSIS Emmanuel de Porras diganjal oleh pemain Deltras, Gustavo, dari arah belakang, dalam pertandingan lanjutan Liga Indonesia di Stadion Jatidiri, Rabu (4/5). Pertandingan kedua kesebelasan yang cenderung bermain keras ini berakhir dengan kemenangan PSIS, 2-0. (57t)

SEMARANG- Striker PSIS Emmanuel de Porras memenuhi janjinya untuk tampil all out pada pertandingan lawan Deltras Sidoarjo, Rabu (4/5), di Stadion Jatidiri. Bahkan, pemain asal Argentina itu menyumbangkan satu gol pada menit ke-38. Bukan itu saja, gol yang dicetak Indriyanto Nugroho menit ke-22, tidak lepas dari assist-nya yang bagus.

Sayangnya, kemenangan 2-0 itu ternoda oleh emosinya. Mantan pemain Persija Jakarta Pusat itu sering bersitegang dengan pemain lawan. Puncaknya terjadi pada menit ke-27. Dia memukul Hilton Moreira sehingga wasit Sukarjono menghadiahi kartu kuning.

''Saya terus diprovokasi. Mereka banyak ngomong jelek tentang saya. Itu membuat saya emosi,'' ujar Porras seusai pertandingan.

Pertandingan sore itu memang berjalan keras menjurus kasar. Pemain kedua kesebelasan sering terbawa emosi. Tak heran, tackling dan sliding keras pun menjadi warna dominan. Pelanggaran yang dilakukan pasukan Mahesa Jenar sebanyak 19 kali. Jumlah yang sama juga dilakukan lawannya.

Sukarjono harus mengeluarkan kartu kuning kepada M Ridwan, Harri Salisburi, Emmanuel de Porras (PSIS), Jimmy Mak, dan Hilton Moreira (Deltras), serta satu kartu merah untuk Ebendje Rudolf (Deltras) pada menit ke-55.

Belum lama pertandingan dimulai, Indriyanto Nugroho cs beberapa kali mencatat peluang emas. Pada menit kelima, tendangan bebas Abdoulaye Djibril hanya membentur mistar gawang. Pada menit ke-13, tandukan Porras di mulut gawang masih bisa dipeluk kiper Helconi Hermain.

Sudut Sempit

Usaha untuk membobol gawang baru berhasil pada menit ke-22. Gol tersebut tercipta melalui kerja sama cantik antara M Ridwan, Porras, dan Indriyanto Nugroho. Umpan Ridwan kepada Porras di sektor kiri pertahanan lawan ditindak lanjuti dengan umpan crossing dari sudut sempit.

Bola yang datang ke mulut gawang, langsung disambut Indriyanto yang meluncur cepat tak terkawal.

Sekali sentuh, bola bergulir ke pojok kanan gawang dan tidak bisa dijangkau kiper Helconi Hermain yang bertubuh kecil.

Seusai gol tersebut, tensi permainan makin tinggi. Pelanggaran-pelanggaran silih berganti dilakukan. Malah pada menit ke-27 terjadi ketegangan, yang dimulai dengan pelanggaran terhadap Porras. Pemain asal Argentina ini marah. Dia memukul Hilton Moreira, yang berbuntut dengan hadiah kartu kuning dari wasit.

Aksi-aksi Porras yang ngotot itu memang sangat menyulitkan pemain belakang tim berjuluk the Lobster itu. Untuk menghentikan aksinya, tak jarang mereka menempuh cara kasar. Namun, hal itu tidak membuat striker ini ciut. Sebaliknya, dia malah bermain kesetanan.

Aksi cemerlang membuahkan hasil pada menit ke-38. Meski di kawal tiga pemain, dia dapat melancarkan tembakan melalui sudut sempit dari dalam kotak penalti. Bola yang melaju deras membentur tiang kiri gawang lalu masuk.

Sekitar 25 ribu penonton yang memadati Stadion Jatidiri pun sontak bersorak gembira. Bunyi petasan terdengar di beberapa tempat dan kembang api pun menyala di mana-mana disertai taburan serpihan kertas-kertas kecil. Suporter Panser Biru dan Snex tidak henti-hentinya mengelukan Porras. Stadion Jatidiri pun bergelora menyambut gol kedua tersebut.

Permainan PSIS yang ngotot dan cepat di babak pertama itu tidak lagi terlihat di babak kedua. Pelatih Bambang Nurdiansyah mengubah skema permainan. Timnya diminta main slow. Mereka memperbanyak ball possession, serta bermain lebih sabar dan tenang.

Kondisi seperti itu dimanfaatkan Deltras untuk gantian menekan pertahanan pasukan Mahesa Jenar. Mereka mampu mengembangkan permainan. Karakter permainannya yang mengandalkan speed dan power semakin kental terlihat di babak kedua. Mereka tidak lagi mengandalkan Michel Adolfo yang memiliki kecepatan dan mobilitasi tinggi sebagai striker tunggal, tapi sudah mulai didukung gelandang serangnya. Hal itu membuat serangan-serangan Deltras terasa menggigit dan membahayakan gawang I Komang Putra.

Namun, pada menit ke-55 mereka harus bermain dengan 10 orang. Ebendje Rudolf mendapat kartu merah setelah sebelumnya diberi kartu kuning wasit. Kekuatan Deltras yang berkurang itu tidak bisa dimanfaatkan PSIS untuk menambah gol.

Serangan-serangan yang dilakukan Indriyanto Nugroho cs hanya membuahkan sejumlah peluang saja lewat Khusnul Yaqien yang masuk menggantikan Porras. Sayang, Khusnul kurang tenang di depan gawang sehingga tidak dapat menuntaskan peluang tersebut.

''Meski bermain 10 orang, namun kami sulit menembus pertahanan lawan. Mereka bermain rapat di daerah pertahanannya,'' tandas Bambang.(H13-22)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA