| Jumat, 06 Mei 2005 | SEMARANG |
Ratusan Ha Cabai Diserang Patek dan Lalat Buah
KENDAL - Ratusan hektare tanaman cabai di wilayah eks Kawedanan Selokaton, yaitu Kecamatan Sukorejo, Patean, Pageruyung, dan Plantungan, Kabupaten Kendal, dalam dua bulan terakhir terserang penyakit patek dan hama lalat buah. Akibatnya, tanaman cabai milik petani yang belum siap dipanen tersebut kering pada kulit buah dan membusuk daging buahnya atau bagian dalamnya. Kerugian yang diderita para petani akibat serangan penyakit itu diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. Sebab cabai yang terkena penyakit dan serangan lalat buah itu dipastikan tidak dapat dimanfaatkan atau harus dibuang. Munculnya serangan penyakit tersebut membuat para petani putus asa. Mereka terpaksa memanen cabai pada usia muda, sebelum terkena serangan penyakit. Apabila kondisi itu dibiarkan berlarut-larut, puluhan petani cabai di empat wilayah kecamatan eks Kawedanan Selokaton itu bisa terancam gulung tikar. ''Tanaman cabai yang terserang penyakit patek dan lalat buah ini adalah jenis cabai taiwan dan keriting. Penyakit patek biasanya muncul bersamaan dengan pergantian musim. Yaitu dari penghujan ke musim kemarau. Peralihan musim itu biasanya ditandai dengan hujan deras selama beberapa hari berturut-turut,'' ungkap Taufiqurahman (40), petani cabai asal Desa Wonorejo, Sukorejo, Kendal, kemarin. Tanaman cabai, lanjut dia, tidak akan bertahan jika terkena air hujan selama lebih dari dua hari. ''Dari sini, timbul serangan patek yang antara lain ditandai dengan munculnya jamur, bakteri, dan virus di bagian akar, daun, dan batang pohon cabai. Ciri lain serangan patek adalah titik hitam yang timbul pada buah cabai. Titik hitam tersebut kemudian membesar dan mengakibatkan kulit cabai cepat kering." Dijual Rp 1.000/Kilo Sementara itu, Rohman (45), mengemukakan indikasi berbeda serangan lalat buah. ''Serangan lalat buah mengakibatkan bagian dalam cabai membusuk. Namun serangan lalat buah dan penyakit patek tidak terjadi pada tanaman cabai rawit. Padahal cabai rawit tidak dirawat secara intensif, seperti halnya cabai keriting atau taiwan. Sebagian besar petani di eks Kawedanan Selokaton menanam komoditas cabai keriting dan cabai taiwan, dan sebagian menanam cabai rawit. Jika dibandingkan dengan cabai keriting dan taiwan, harga jual cabai rawit di pasaran dinilai lebih rendah." Sementara itu, untuk mengatasi serangan lalat buah dan penyakit patek, para petani sudah mencoba beragam obat-obatan kimia. Namun upaya itu belum membuahkan hasil yang optimal. Sebaliknya, petani justru makin terbebani dengan biaya tambahan pengadaan obat-obatan. Karena itu, para petani akhirnya memutuskan untuk memanen cabai yang masih muda. Dijelaskannya, risiko yang ditanggung petani ketika menjual hasil panenan cabai muda adalah rendahnya harga jual. ''Cabai keriting dan cabai taiwan siap panen bisa laku Rp 3.000/kilo dan Rp 2.500/kilo. Namun jika hasil panenan usia muda, komoditas ini hanya laku Rp 1.000/kilo jika dijual di kampung. Sebab jika dijual ke tengkulak atau pasar, paling tinggi Rp 750/kilo. "Kami berharap, Dinas Pertanian Pemkab Kendal, dapat mencarikan jalan keluar atas masalah ini,'' ujarnya. Kepala Dinas Pertanian Pemkab Kendal Ir Asri Dwi Hartadi ketika diminta konfirmasi tentang permasalahan petani cabai tersebut mengatakan, pihaknya akan segera menurunkan tim untuk melihat kondisi lapangan. ''Besok pagi (Jum'at-Red), kami akan survei dulu,'' kata pajabat yang akrab dipanggil Didik itu saat dihubungi lewat ponselnya. (G15-56m) |