| Jumat, 06 Mei 2005 | SEMARANG |
Peninggian Simpanglima Bisa Kurangi EstetikaSEMARANG - Usulan untuk membangun gedung bertingkat di lahan yang kini menjadi lapangan Simpanglima mendapat tanggapan berbagai pihak. Ada pihak yang berpendapat, hal itu justru akan mengurangi estetika kawasan. Namun ada pendapat lain, sebaiknya bangunan itu dibuat di dalam tanah. Anggota tim penyusun Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan Simpanglima Ir Wiryani, Kamis (5/5) menanggapi usulan Sekretaris Program Doktor Teknik Arsitektur dan Perkotaan Universitas Diponegoro Eddy Prianto. Menurut pendapatnya, pembangunan sebuah gedung terutama di Simpanglima, tidak hanya harus memperhatikan fungsinya saja tetapi juga keindahan kawasan. Dia mengemukakan, estetika kawasan justru akan hilang jika lahan yang kini menjadi Lapangan Pancasila dijadikan bangunan bertingkat. ''Akan lebih baik jika bangunan semacam itu dibuat di dalam tanah,'' ujar dia. Pendapat senada juga disampaikan Ketua Program Magister Pembangunan Kota Prof Dr Ir Sugiono Soetomo DEA. Pada 1996, Continent, sebuah investor mal terbesar dari Prancis pernah merencanakan membuat bangunan di bawah tanah di Simpanglima. Hal itu sebagai kompensasi jika perusahaan itu mampu mengatasi persoalan banjir di kawasan itu. ''Sayang, kemudian rencana itu gagal dilaksanakan,'' kata dia. Dia menekankan, menjadikan Lapangan Pancasila sebagai gedung bertingkat akan membuat jalan yang melingkarinya menjadi sebuah lorong. Akan lebih baik jika bangunan tersebut berada di bawah tanah, walaupun tidak persis sama seperti yang direncanakan Continent. Di dalamnya, diutamakan untuk pertokoan. Underpass atau jalan dari gedung-gedung sekitarnya menuju ke bangunan di bawah tanah itu juga bisa diisi PKL. ''Jadi, underpass dan ruangan bawah tanah tersebut bisa multifungsi dan selalu ramai,'' tuturnya. Makin Semrawut Terkait dengan usulan untuk membuat ruangan bawah tanah itu sebagai lahan parkir, Sugiono Soetomo menyatakan hal itu bisa saja diakomodasi. Namun dia menilai, pembangunan ruang parkir baru di kawasan itu justru akan membuat kawasan Simpanglima makin semrawut. Pembangunan ruang parkir baru justru akan menarik minat orang untuk datang dengan menggunakan kendaraan pribadi. Mereka akan merasa telah tersedia ruang parkir baru yang bisa digunakan secara nyaman. ''Justru yang harus dilakukan adalah mengurangi kendaraan pribadi agar tak banyak yang masuk ke Simpanglima, misalnya dengan menerapkan retribusi yang tinggi.'' Seiring dengan itu, Pemkot harus menyediakan angkutan umum yang nyaman dan aman walaupun harganya sedikit lebih mahal. Angkutan umum semacam itu bisa digunakan oleh kalangan menengah ke atas. Untuk kalangan ekonomi menengah ke bawah, juga tetap harus ada angkutan umum yang murah. Prasarana pedestrian yang nyaman juga harus diadakan. Dengan demikian, warga juga tidak enggan untuk berjalan kaki di kawasan tersebut. Trotoar semacam itu sebagian memang tetap bisa dimanfaatkan untuk PKL. Namun, mereka juga harus ditata agar hak pejalan kaki tidak terganggu. Trotoar, lanjut dia, juga tidak dibuat naik turun seperti yang ada sekarang ini tetapi relatif rata. Tentu saja kendaraan tidak bisa lagi masuk ke gedung melalui trotoar tersebut. (G6-50j) |