| Jumat, 06 Mei 2005 | SEMARANG |
Apabila Dua Robot Polines DiaduPERNAH menyaksikan dua robot beradu ketangkasan dan keterampilan? Membayangkannya pun mungkin belum pernah terlintas. Namun, itulah yang diwujudkan sejumlah mahasiswa Politeknik Negeri Semarang (Polines), Rabu (4/5). Kantin kampus mereka ubah laiknya arena adu ketangkasan. Deretan meja dan kursi disingkirkan sementara, sehingga terciptalah ruang yang cukup lapang. Layaknya arena pertandingan, seutas tali rafia terpasang mengelilingi tempat uji tanding robot-robot tersebut sebagai pembatas dengan penonton. Sebaliknya, di tengah arena telah terpasang lintasan berbentuk persegi panjang sebagai jalur robot otomatis untuk memasukkan bola ke dalam keranjang warna biru yang terletak tepat di tengah arena. Selebihnya, dua keranjang lain berwarna hijau ditempatkan di dua sisi mengapit keranjang biru. Masing-masing keranjang tingginya lebih dari satu meter. Selain itu, ada dua lubang warna putih yang menempel lantai berada di dua penjuru sebagai tempat robot manual memasukkan bola. Ya, arena itu diciptakan untuk menguji dua robot hasil kreasi mahasiswa, yaitu Khon-sa dan Ett-nic beradu ketangkasan memasukkan bola karet sebanyak mungkin. ''Masing-masing robot terdiri atas dua jenis yaitu otomatis dan manual. Robot otomatis memasukkan bola tanpa digerakkan siapa pun, sedangkan robot manual baik milik Khon-sa maupun Ett-nic digerakkan oleh operator yang memegang stick dalam memasukkan bola dalam lubang yang disediakan,'' tutur Bambang Supriyantono, pemandu uji tanding, menerangkan aturan main sebelum acara dimulai. Uji tanding dua robot hasil karya mahasiswa tersebut menarik perhatian masyarakat. Tak kurang dari lima ratusan mahasiswa Polines dan siswa SMK dari sekitar Kota Semarang rela berjubel menyaksikan tontonan yang langka di Kota ATLAS. Mereka duduk berjejer di sekeliling arena, selebihnya berdiri rapi di belakang. Tak sedikit yang harus naik kursi agar bisa melihat ulah robot-robot tersebut. Lalu, pertandingan pun dimulai. Selama tiga menit robot Khon-sa yang hidup dengan tenaga Accu tersebut mampu memasukkan dua bola karet ke dalam keranjang yang tingginya lebih dari satu meter, sedangkan Khon-sa manual meski berhasil melontarkan sejumlah bola ke keranjang, tak satu pun masuk. ''Lontarannya terlalu keras. Perlu robot slam dunk, kali yah,'' komentar salah satu penonton menyaksikan lemparan robot yang terlalu kencang. Sebaliknya, Ett-nic mengalami kerusakan sensor otomatis sehingga tak bisa berbuat banyak melawan dominasi Khon-sa. Jangankan memasukkan bola, bergeser dari tempatnya pun tak mampu. Pertandingan di babak kedua yang juga berlangsung tiga menit. Tapi, keadaan berbalik. Ett-nik mampu memasukkan dua buah bola, sedang Khon-sa hanya satu. Ya, dua robot tersebut mampu menunjukkan ''kelasnya''. Robot buatan tangan dingin mahasiswa Polines tersebut merupakan dua diantara 32 robot yang dinyatakan laik tanding dalam Final Kontes Robot Indonesia 14 Mei mendatang, di Jakarta. ''Pertandingan semacam ini untuk mengetahui kelemahan-kelemahan kedua robot sebelum bertanding di tingkat nasional. Semoga, dengan berbagai penyempurnaan menjelang lomba, kami mampu mengungguli 30 robot lain dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Selanjutnya, bisa maju ke tingkat internasional,'' harap Bambang pembimbing para mahasiswa tersebut. Semoga! (Widodo Prasetyo-36) |