| Jumat, 06 Mei 2005 | EKONOMI |
Pemerintah Dorong Penggunaan Batu Bara dan GasJAKARTA- Pemerintah akan mendorong penggunaan batubara dan gas di dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan terhadap Bahan Bakar Minyak (BBM) sehingga 20%-30%. "Jika kita tidak melakukan apa pun, maka cadangan minyak mentah kita akan habis pada 18 tahun mendatang, sementara gas 62 tahun dan batubara 157 tahun. Itu dengan asumsi kurva penurunan cadangan minyak per tahun adalah 16 persen," kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Purnomo Yusgiantoro, pada acara seminar nasional "Industri Migas Nasional: Perkembangan, Permasalahan, dan Kebijakan dalam mendukung Stabilitas dan Pertumbuhan Ekonomi Nasional" yang diselenggarakan Bank Indonesia, Rabu (4/5). Saat ini, Purnomo memaparkan, produksi minyak mentah di Indonesia adalah 1,1 juta barel per hari, sementara produksi gas 8,4 Bilion Cubic Feet(BCF) per hari. Untuk mendorong penggunaan gas dan batubara tersebut, menurut Purnomo, pemerintah akan menerapkan kebijakan harga yang lebih baik. "Kalau masih terjadi disparitas harga gas dan batubara, maka akan terjadi kebocoran-kebocoran, baik ke luar negeri kita atau ke industri dan sebagainya." Selain itu, pemerintah juga akan mempelajari kemungkinan pemberian insentif bagi industri gas dan batu bara yang kini masih dikaji oleh BP Migas. Insentif tersebut, masih menurut Purnomo, bisa berupa mengubah split-cost, interest cost recovery, atau investment insentive. "Apa yang akan BP Migas sampaikan kepada kami, akan kami kaji," katanya. Berusaha Memperbaiki Pemerintah juga akan berusaha memperbaiki kebijakan non-fiskal. Antara lain melalui pembangunan infrastruktur industri gas dan peningkatan daya beli masyarakat. "Impian kami adalah membuat Integrated Indonesian Gas Pipe-Line yang akan menghubungkan Jawa dengan Sumatera." Sementara itu Gubernur BI, dalam sambutannya yang dibacakan oleh Deputi Senior Gubernur BI Miranda Gultom, juga menyatakan peranan gas bumi di Indonesia menjadi semakin penting, didukung dengan cadangan yang diperkirakan sekitar 178 TSCF. "Indonesia merupakan produsen ke-6 terbesar dan pengekspor terbesar gas alam cair (LNG) di dunia saat ini, namun pemanfaatan gas di Indonesia masih sangat rendah, yakni sekitar 25 persen dari potensi yang ada," katanya. Pemanfaatan gas alam secara optimal, menurut Gubernur BI, merupakan permasalahan yang harus dipecahkan dalam rangka mengatasi permasalahan BBM sekaligus membantu percepatan pemulihan ekonomi nasional. Tempat eksploitasi gas bumi yang besar di Indonesia terletak di Natuna, Matindo, dan Tangguh. (ant-47) |