| Jumat, 06 Mei 2005 | EKONOMI |
PT Suwastama Tingkatkan Dana Penjaminan UMKMSOLO-Dana penjaminan bagi kelompok usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dari perusahaan mebel PT Suwastama Solo tahun ini meningkat. Tahun 2001 pemerintah melalui Menteri Koperasi menggulirkan Program Modal Awal Padanan (MAP) dalam bentuk kredit dengan dana bergulir dan penjaminan kepada UMKM. PT Suwastama ditunjuk berpartisipasi dalam program itu. Ketika itu tersedia dana penjaminan Rp 3,5 miliar dari Departemen Koperasi 50%, Perum Pengembangan Sarana Usaha Jateng/DIY 35%, dan PT Suwastama 15%. Program penjaminan tahun ini direncanakan Rp 5,7 miliar. Dari jumlah itu perusahaan mebel tersebut meningkatkan jumlah dana penjaminan 35% atau sekitar Rp 2 miliar. ''Andai dana penjaminan itu dinaikkan menjadi Rp 10 miliar dan kami diminta menyediakan 35%, kami tetap bersedia,'' ujar H Hardono, Presiden Direktur PT Suwastama, kemarin. Bisa Diatasi Melalui dana penjaminan itu, kata dia, kelambatan pembayaran kepada UMKM bisa diatasi. UMKM terutama perajin yang produknya diekspor tidak langsung menerima pembayaran dari pembeli. Mereka dibayar rata-rata sebulan setelah barang terkirim. Akibatnya, kelangsungan produksi tidak terjaga karena mereka harus menunggu pembayaran. Perajin lalu menempuh jalan pintas, yakni meminjam kepada pihak lain dengan bunga tinggi. Cara tersebut tidak menguntungkan meskipun kelangsungan produksi terjaga. Kelambatan pembayaran itu tidak perlu terjadi kalau ada lembaga penjamin dan bank yang bersedia menangani pembayaran. ''Terpanggil ikut mengatasi hal itu kami melibatkan diri dalam program penjaminan untuk mengangkat perajin,'' jelasnya. Agar program tersebut berjalan lancar, kata dia, ditunjuk Business Development Service (BDS) sebagai fasilitator dan pendamping. Dana tersebut, lanjut dia, disimpan di Bank Syariah Mandiri sebagai bank pelaksana. Dengan demikian para eksportir bisa membayar tepat waktu kepada para perajin melalui bank itu. Perajin binaan pabrik mebel tersebut yang menikmati program penjaminan sebanyak 104 orang. Mereka tersebar di Solo, Sukoharjo, Wonogiri, Gombong, Jepara, Pacitan, Sidoarjo, Cirebon, dan Kalimantan. (bt-27) |