logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 06 Mei 2005 EKONOMI
Line

Merger untuk Tingkatkan Produktivitas Perbankan

KECIL lebih efisien, sedangkan yang besar mungkin lebih kuat namun lamban. Analogi itu pas dikaitkan dengan kondisi perbankan Indonesia saat ini. Ada bank besar dengan jaringan menggurita dan cukup banyak bank kecil yang bersaing memperebutkan nasabah.

Bank memang bisnis spesifik. Bukan sekadar bagaimana mendistribusikan kredit dan menjaring dana pihak ketiga, tetapi terutama menyangkut pelayanan dan kemudahan nasabah mengakses.

Beberapa tahun lalu teknologi automatic teller machine atau diterjemahkan sebagai anjungan tunai mandiri (ATM) diperkenalkan, sehingga nasabah makin dipermudah dalam bertransaksi selama 24 jam.

Belum semua bank mengoperasikan jaringan ATM, teknologi yang lebih maju diperkenalkan, yakni phone banking. Orang bisa melakukan transaksi perbankan melalui telepon dari mana saja.

Kini bahkan nasabah lebih dimanjakan lagi dengan internet banking. Selain pengelola profesional, kehebatan bank ditentukan oleh kemampuan memanfaatkan teknologi informasi.

Dari segi teknologi sudah kelihatan hanya bank kuat, memiliki jaringan luas, dan tenaga profesional yang mampu menjawab tuntutan zaman. Terbukti masih ada bank berskala nasional yang belum mengoperasionalkan ATM karena berbagai sebab. Tetapi yang jelas teknologi perbankan membutuhkan investasi tidak sedikit, selain biaya operasionalnya.

Belum lagi jika dilihat pada kinerja keuangannya, bagaimana mengelola kredit macet dan segala kewajibannya kepada Bank Indonesia (BI) serta teknis perbankan lainnya.

Orang masih belum lupa tahun ini Bank Global yang nota bene telah listed atau mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta (BEJ) harus ditutup karena jeblok kinerjanya akibat pengelola tidak profesional. Kasus itu makin memperpanjang jumlah bank berstatus ''almarhum''.

Seorang pakar keuangan menilai dari sekitar 160 bank di Indonesia lebih dari separo berpotensi digabungkan karena tidak sehat. Jika dibiarkan jalan sendiri maka cepat atau lambat akan mati karena seleksi alam yang ketat.

Bahkan diindikasikan ada tiga bank yang kini kolaps dan berada dalam perawatan BI. Penyebabnya adalah terlalu kecil marginal cost-nya serta volume dan produktivitas yang minim.

Gubernur BI Burhanuddin Abdullah mengatakan penggabungan atau merger bank-bank BUMN merupakan upaya konsolidasi perbankan sesuai dengan Arsitektur Perbankan Indonesia (API) yang telah disusun oleh bank sentral itu. ''Kita ingin merger secara strategis dan benar langkahnya,'' tegas dia.

Deni Daruri, Direktur Center for Banking Crisis berpendapat jika ada bank yang ditutup maka akan memberatkan APBN dan nasabah pun dirugikan.

BI semestinya memaksa ketiga bank yang kini cenderung kolaps itu mencari tambahan modal atau merger dengan bank lain untuk menyelamatkan. Konsolidasi perbankan menjadi keniscayaan untuk memperkuat sistem ketahanan perbankan nasional.

Sisa Pemberesan

Kalau kini ada bank yang tidak sehat, maka mungkin merupakan sisa dari pemberesan perbankan melalui restrukturisasi dan rekapitalisasi beberapa tahun lalu yang menghabiskan dana Rp 698 triliun.

Agar jangan ada penutupan bank harus diupayakan merger. Toh merger atau akuisisi bukanlah hal baru di dunia bisnis modern. Di negara mana pun merger bank merupakan hal biasa.

Perlu diingat dalam penggabungan, terutama bank BUMN, harus dilakukan hati-hati, cermat, dan seksama mengingat ada teknologi dan budaya kerja yang berbeda. BI lebih mudah melakukan pengawasan dan pembinaan jika jumlah bank tidak terlalu banyak.

Di antara bank BUMN yang potensial dimerger adalah Bank BTN. Bank itu kini ibarat gadis cantik. Banyak yang tertarik ingin menyunting.

Tetapi ''orang tuanya'' (baca: pemerintah selaku pemegang saham) masih mengkhawatirkan merger Bank BTN oleh bank BUMN lain akan mengubah visi dan misinya, paling tidak dalam menyediakan perumahan bagi masyarakat. Namun kekhawatiran itu kurang berdasar. Bank hasil merger nanti bisa saja menjadi lebih fokus. Kredit yang dialokasikan makin besar dan sasaran target perumahannya kian banyak, serta beragam. Ibarat pasar, bank besar bisa menjadi supermarket atau toko serba ada yang melayani semua kepentingan nasabahnya.

''Makin sama sifat-sifatnya kian kecil kendala yang ditimbulkan pascamerger sebagai usaha meningkatkan produktivitas,'' ujar Deni Daruri.

Untuk itu merger bank harus memperhatikan daya saing ekonomi, serta kepuasan pemegang saham. Semua itu hanya bisa tercapai jika merger didasarkan pada persamaan sifat-sifat bank yang akan digabungkan, sehingga bank hasil merger dapat segera berkonsentrasi meningkatkan daya saing riilnya. Ichsanuddin Noorsy, mantan anggota DPR menegaskan keputusan merger harus berorientasi pada kepuasan pelanggan.

Sebagai ilustrasi empat tahun pascamerger Bank Mandiri menguasai 20% pangsa pasar perbankan nasional. Terlepas dari masalah kredit macet yang kini dihadapi, bank itu yang terbesar di Indonesia dari segi aset, pinjaman, dan deposito.

Rasio asetnya 25% dari aset perbankan Indonesia. Bank itu juga amat sehat dengan rasio kecukupan modal (CAR) 27% atau jauh melampaui ketentuan BI sebesar 8%. Bank Danamon yang merger tahun 2000 kini juga terlihat makin kokoh perannya dalam sektor konsumer dan usaha kecil menengah (UKM). (Wahyu Atmaji-27)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA